Senin, 08 Juni 2015

Tugas Bahasa Indonesia (NARKOBA)

NARKOBA

BAB I PENDAHULUAN (Halaman 1)

A. Latar Belakang
Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif lainnya. Terminologi narkoba familiar digunakan oleh aparat penegak hukum seperti polisi (termasuk didalamnya Badan Narkotika Nasional), jaksa, hakim dan petugas Pemasyarakatan. Selain narkoba, sebutan lain yang menunjuk pada ketiga zat tersebut adalah Napza yaitu Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Istilah napza biasanya lebih banyak dipakai oleh para praktisi kesehatan dan rehabilitasi. Akan tetapi pada intinya pemaknaan dari kedua istilah tersebut tetap merujuk pada tiga jenis zat yang sama.

Menurut UU No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika disebutkan pengertian Narkotika adalah “zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan”.

Sebenarnya Narkoba itu obat legal yang digukan dalam dunia kedokteran, namun dewasa ini Narkoba banyak disalahgunakan. Bahkan kalangan muda tidak sedikit yang menggunakan narkoba. Banyak dari mereka yang menggunakan Narkoba dengan alasan untuk kesenangan batin, namun sayangnya tidak banyak yang mengetahuai bahaya narkoba. Oleh karena itu selain untuk menyelesaikan tugas dari mata kuliah Bhs. Indonesia, kami menyusun makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi betapa bahayanya Narkoba.

B. Tujuan
Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda dewasa ini kian meningkat. Maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Sehingga pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan. Sasaran dari penyebaran narkoba ini adalah kaum muda atau remaja. Makalah ini bertujuan:
1. Sebagai pengetahuan bagi para remaja tentang bahasa narkoba bagi dirinya
2. Sebagai sebuah referinsi sehingga para remaja itu bisa mengerti tentang jenis-jenis narkoba
3. tugas dari mata pelajaran Bahasa Indonesia

C. Rumusan Masalah

Kami membuat makalah ini dengan rancangan pertanyaan-pertayaan yang timbul dari benak kami, diantaranya:
1. Apa pengertian Narkoba?
2. Ada berapa macam Narkoba?
3. Apa bahaya Narkoba?
4. Bagaimana mengatasinya?

BAB 2 PEMBAHASAN (Halaman 2-7)

A.    Macam – Macam Narkoba

Jenis-jenis narkoba
Jenis-Jenis Narkoba
1. Morfin
Morfin adalah hasil olahan dari opium/candu mentah. Morfin merupakan alkaloida utama dari opium (C17H19NO3). Morfin rasanya pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau dalam bentuk cairan berwarna. Pemakaiannya dengan cara dihisap dan disuntikkan.

2. Codeina
Codein termasuk garam turunan dari opium dan candu. Efek codein lebih lemah daripada heroin dan potensinya untuk menimbulkan ketergantungaan rendah. Biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan jernih. Cara pemakaiannya ditelan dan disuntikkan.

3. Heroin (putaw)
Heroin mempunyai kekuatan yang dua kali lebih kuat dari morfin dan merupakan jenis opiat yang paling sering disalahgunakan orang di Indonesia pada akhir – akhir ini. Heroin yang secara farmakologis mirip dengan morfin menyebabkan orang menjadi mengantuk dan perubahan mood yang tidak menentu. Walaupun pembuatan, penjualan dan pemilikan heroin adalah ilegal, tetapi diusahakan heroin tetap tersedia bagi pasien dengan penyakit kanker terminal karena efek analgesik dan euforik-nya yang baik.

4. Methadon
Saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Sejumlah besar narkotik sintetik (opioid) telah dibuat, termasuk meperidine (Demerol), methadone (Dolphine), pentazocine (Talwin), dan propocyphene (Darvon). Saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Kelas obat tersebut adalah nalaxone (Narcan), naltrxone (Trexan), nalorphine, levalorphane dan apomorphine. Sejumlah senyawa dengan aktivitas campuran agonis dan antagonis telah disintesis, dan senyawa tersebut adalah pentazocine, butorphanol (Stadol), dan buprenorphine (Buprenex). Beberapa penelitian telah menemukan bahwa buprenorphine adalah suatu pengobatan yang efektif untuk ketergantungan opioid. Nama popoler jenis opioid : putauw, etep, PT, putih.

5. Demerol
Nama lain dari Demerol adalah pethidina. Pemakaiannya dapat ditelan atau dengan suntikan. Demerol dijual dalam bentuk pil dan cairan tidak berwarna.

6. Candu
Getah tanaman Papaver Somniferum didapat dengan menyadap (menggores) buah yang hendak masak. Getah yang keluar berwarna putih dan dinamai “Lates”. Getah ini dibiarkan mengering pada permukaan buah sehingga berwarna coklat kehitaman dan sesudah diolah akan menjadi suatu adonan yang menyerupai aspal lunak. Inilah yang dinamakan candu mentah atau candu kasar. Candu kasar mengandung bermacam-macam zat-zat aktif yang sering disalahgunakan. Candu masak warnanya coklat tua atau coklat kehitaman. Diperjual belikan dalam kemasan kotak kaleng dengan berbagai macam cap, antara lain ular, tengkorak, burung elang, bola dunia, cap 999, cap anjing, dsb. Pemakaiannya dengan cara dihisap.

B. Faktor yang Mendorong
a. Motivasi dalam penyalahgunaan zat dan narkotika ternyata menyangkut motivasi yang berhubungan dengan keadaan individu (motivasi individual) yang mengenai aspek fisik, emosional, mental-intelektual dan interpersonal.

b. Di samping adanya motivasi individu yang menimbulkan suatu tindakan penyalahgunaan zat, masih ada faktor lain yang mempunyai hubungan erat dengan kondisi penyalahgunaan zat yaitu faktor sosiokultural seperti di bawah ini dan ini merupakan suasana hati menekan yang mendalam dalam diri remaja antara lain:
1. Perpecahan unit keluarga misalnya perceraian, keluarga yang berpindah-pindah, orang tua yang tidak ada/jarang di rumah dan sebagainya
2. Pengaruh media massa misalnya iklan mengenai obat-obatan dan zat.
3. Perubahan teknologi yang cepat.
4. Kaburnya nilai-nilai dan sistem agama serta mencairnya standar moral; (hal ini berarti perlu pembinaan Budi Pekerti – Akhlaq)
5. Meningkatnya waktu menganggur.
6. Ketidakseimbangan keadaan ekonomi misalnya kemiskinan, perbedaan ekonomi etno rasial, kemewahan yang membosankan dan sebagainya.
7. Menjadi manusia untuk orang lain.

C. Bahaya Narkoba
a. Menurut Efeknya
Halusinogen, efek dari narkoba ini bisa mengakibatkan bila dikonsumsi dalam sekian dosis tertentu dapat mengakibatkan seseorang menjadi ber-halusinasi dengan melihat suatu hal/benda yang sebenarnya tidak ada / tidak nyata contohnya kokain & LSD

Stimulan, efek dari narkoba ini bisa mengakibatkan kerja organ tubuh seperti jantung dan otak bekerja lebih cepat dari kerja biasanya sehingga mengakibatkan seseorang lebih bertenaga untuk sementara waktu , dan cenderung membuat seorang pengguna lebih senang dan gembira untuk sementara waktu

Depresan, efek dari narkoba ini bisa menekan sistem syaraf pusat dan mengurangi aktivitas fungsional tubuh, sehingga pemakai merasa tenang bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tidak sadarkan diri. Contohnya putaw

Adiktif, Seseorang yang sudah mengkonsumsi narkoba biasanya akan ingin dan ingin lagi karena zat tertentu dalam narkoba mengakibatkan seseorang cenderung bersifat pasif , karena secara tidak langsung narkoba memutuskan syaraf-syaraf dalam otak,contohnya ganja , heroin , putaw

"Jika terlalu lama dan sudah ketergantungan narkoba maka lambat laun organ dalam tubuh akan rusak dan jika sudah melebihi takaran maka pengguna itu akan overdosis dan akhirnya kematian".

b. Menurut Jenisnya
Adapun bahaya narkoba berdasarkan jenisnya adalah sebagai berikut:
Opioid:
depresi berat
apatis
rasa lelah berlebihan
malas bergerak
banyak tidur
gugup
gelisah
selalu merasa curiga
denyut jantung bertambah cepat
rasa gembira berlebihan
banyak bicara namun cadel
rasa harga diri meningkat
kejang-kejang
pupil mata mengecil
tekanan darah meningkat
berkeringat dingin
mual hingga muntah
luka pada sekat rongga hidung
kehilangan nafsu makan
turunnya berat badan

Kokain:
denyut jantung bertambah cepat
gelisah
rasa gembira berlebihan
rasa harga diri meningkat
banyak bicara
kejang-kejang
pupil mata melebar
berkeringat dingin
mual hingga muntah
mudah berkelahi
pendarahan pada otak
penyumbatan pembuluh darah
pergerakan mata tidak terkendali
kekakuan otot leher


Ganja:
mata sembab
kantung mata terlihat bengkak, merah, dan berair
sering melamun
pendengaran terganggu
selalu tertawa
terkadang cepat marah
tidak bergairah
gelisah
dehidrasi
tulang gigi keropos
liver
saraf otak dan saraf mata rusak
skizofrenia

Ectasy:
enerjik tapi matanya sayu dan wajahnya pucat,
berkeringat
sulit tidur
kerusakan saraf otak
dehidrasi
gangguan liver
tulang dan gigi keropos
tidak nafsu makan
saraf mata rusak

Shabu-shabu:
enerjik
paranoid
sulit tidur
sulit berfikir
kerusakan saraf otak, terutama saraf pengendali pernafasan hingga merasa sesak nafas
banyak bicara
denyut jantung bertambah cepat
pendarahan otak
shock pada pembuluh darah jantung yang akan berujung pada kematian

Benzodiazepin:
berjalan sempoyongan
wajah kemerahan
banyak bicara tapi cadel
mudah marah
konsentrasi terganggu
kerusakan organ-organ tubuh terutama otak

Jadi dapat disimpulkan apabila narkoba dikonsumsi Oleh:
a. Remaja
Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa. Perkembangan seseorang dalam masa anak-anak dan remaja akan membentuk perkembangan diri orang tersebut di masa dewasa. Karena itulah bila masa anak-anak dan remaja rusak karena narkoba, maka suram atau bahkan hancurlah masa depannya.

Pada masa remaja, justru keinginan untuk mencoba-coba, mengikuti trend dan gaya hidup, serta bersenang-senang besar sekali. Walaupun semua kecenderungan itu wajar-wajar saja, tetapi hal itu bisa juga memudahkan remaja untuk terdorong menyalahgunakan narkoba. Data menunjukkan bahwa jumlah pengguna narkoba yang paling banyak adalah kelompok usia remaja.

Masalah menjadi lebih gawat lagi bila karena penggunaan narkoba, para remaja tertular dan menularkan HIV/AIDS di kalangan remaja. Hal ini telah terbukti dari pemakaian narkoba melalui jarum suntik secara bergantian. Bangsa ini akan kehilangan remaja yang sangat banyak akibat penyalahgunaan narkoba dan merebaknya HIV/AIDS. Kehilangan remaja sama dengan kehilangan sumber daya manusia bagi bangsa.

b. Pelajar
Di Indonesia, pencandu narkoba ini perkembangannya semakin pesat. Para pencandu narkoba itu pada umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau usia pelajar. Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok.

Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar di kalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi pencandu narkoba. Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan.

Dampak negatif penyalahgunaan narkoba terhadap anak atau remaja (pelajar-red)
adalah sebagai berikut:
- Perubahan dalam sikap, perangai dan kepribadian,
- Sering membolos, menurunnya kedisiplinan dan nilai-nilai pelajaran,
- Menjadi mudah tersinggung dan cepat marah,
- Sering menguap, mengantuk, dan malas,
- Tidak memedulikan kesehatan diri,
- Suka mencuri untuk membeli narkoba.

E. Penyelesaian atau Solusi
Banyak yang masih bisa dilakukan untuk mencegah remaja menyalahgunakan narkoba dan membantu remaja yang sudah terjerumus penyalahgunaan narkoba. Ada tiga tingkat intervensi, yaitu
1. Primer
Sebelum penyalahgunaan terjadi, biasanya dalam bentuk pendidikan, penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba, pendekatan melalui keluarga, dll. Instansi pemerintah, seperti halnya BKKBN, lebih banyak berperan pada tahap intervensi ini. kegiatan dilakukan seputar pemberian informasi melalui berbagai bentuk materi KIE yang ditujukan kepada remaja langsung dan keluarga.



2. Sekunder
Pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan (treatment). Fase ini meliputi: Fase penerimaan awal (initialintake) antara 1 – 3 hari dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mental, dan Fase detoksifikasi dan terapi komplikasi medik, antara 1 – 3 minggu untuk melakukan pengurangan ketergantungan bahan-bahan adiktif secara bertahap.

3. Tersier
yaitu upaya untuk merehabilitasi mereka yang sudah memakai dan dalam proses penyembuhan. Tahap ini biasanya terdiri atas Fase stabilisasi, antara 3 - 12 bulan, untuk mempersiapkan pengguna kembali ke masyarakat, dan Fase sosialiasi dalam masyarakat, agar mantan penyalahguna narkoba mampu mengembangkan kehidupan yang bermakna di masyarakat. Tahap ini biasanya berupa kegiatan konseling, membuat kelompok-kelompok dukungan, mengembangkan kegiatan alternatif, dll.





























BAB III PENUTUP (Halaman 8)

Akihirnya makalah yang berjudul “Narkoba Penghancur Generasi Muda”  ini telah selesai dan semoga makalah yang sedemikian singkat ini bisa bermanfaat bagi kita semua sehingga kita bisa mengerti tentang bahaya narkoba yang bisa mengerogoti moral kita dan sebagai generasi muda maka kita harus menyadari bahwa kita sebagai tulang punggung bangsa sekaligus bertangung jawab atas kemauan bangsa ini.

SIMPULAN
Kesimpulan

Dari makalah di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa:
  •  Narkoba adalah barang yang sangat berbahaya dan bisa merusak susunan syaraf yang bisa merubah sebuah kepribadian seseorang menjadi semakin buruk
  •  Narkoba adalah sumber dari tindakan kriminalitas yang bisa merusak norma dan ketentraman umu.
  •  Menimbulkan dampak negative yang mempengaruhi pada tubuh baik secara fisik maupun psikologis



Minggu, 26 April 2015

10 Fakta Tentang Manfaat Berolahraga

1. Berolahraga akan Meningkatkan Kapasitas Otak Anda
“Berolahraga meningkatkan energi dan menambah serotonin dalam otak”, begitu kata David Atkinson, direktur dari Cooper Venture Development Program, salah satu divisi dari Cooper Aerobic Center di Dallas, Amerika Serikat. Serotonin adalah hormon di otak yang berfungsi sebagai modulator kapasitas kerja otak yang mencakup pengatur stabilitas emosi, pemahaman dan nafsu makan. Jadi orang yang melakukan olahraga dengan jumlah cukup akan menemukanproduktivitas mereka meningkat. Produktivitas seseorang tidak hanya berarti orang tersebut dapat memberikan kualitas kerja yang baik, namun ia juga dapat memberikan kontribusi untuk suasana kerja yang bahagia di tempat kerja.
2. Menggerakkan Tubuh Membantu Mencairkan Stres Anda
Berolahraga memberikan efek relaksasi yang baik untuk semua orang. Itu sebabnya ketika seseorang mulai berlatih, dia akan segera mengetahui bahwa hal itu akan mengurangi stres dan membuatnya menjadi pribadi yang lebih bahagia. Atkinson mengatakan bahwa ketika seseorang bahagia, efeknya tidak hanya menguntungkan orang itu sendiri. Kondisi ini menyebabkan orang tersebut menjadi tidak mudah marah, dengan demikian, meningkatkan kualitas hubungan dengan rekan-rekan kerjanya, keluarga dan orang lain.
3. Berolahraga akan Memberikan Energi
Berolahraga, meskipun hanya 30 menit sehari, dapat mengubah hari seseorang dari pagi sampai malam hari. Ketika endorphin dilepaskan ke dalam darah selama berolahraga, seseorang akan merasa lebih energik sepanjang hari. Endorphin adalah senyawa kimia dalam otak kita yang dapat membuat otak menjadi rileks.
Atkinson pernah mendapat keluhan dari kliennya yang mengatakan bahwa ia merasa lelah setelah berlatih. Atkinson menjelaskan bahwa kelelahan biasanya terjadi pada beberapa sesi pertama pasca berolahraga karena tubuh tidak terbiasa. Setelah itu, kelelahan akan hilang dengan sendirinya.
4. Tidak Sulit Mencari Waktu Untuk Berolahraga

Banyak orang berpikir bahwa mereka tidak punya waktu untuk berolahraga. Kemudian, tidak memiliki peralatan tertentu seperti sepasang sepatu olahraga menjadi penghalang. Sebenarnya, Atkinson menyatakan, berolahraga bisa dimulai dari pemikiran sederhana, “Berpikir bahwa kita membunuh dua burung dengan satu batu.” Itu berarti anda benar-benar melakukan dua hal atau mendapatkan dua keuntungan dengan melakukan satu kegiatan.
Anda bisa memulai dengan meminta anak-anak anda untuk bermain dengan sepeda mereka di taman. Anda bisa melihatnya sekaligus berolahraga pada saat yang bersamaan. Jika suatu hari anda perlu melakukan pertemuan dengan seseorang, anda bisa memilih tempat yang memiliki jogging track, taman, kolam renang atau fasilitas lain yang dapat digunakan untuk berolahraga. Anda bahkan dapat berolahraga saat melakukan tugas-tugas rumah. Yang penting adalah menggerakkan tubuh anda.
5. Berolahraga akan Membina Hubungan
Berolahraga meningkatkan hubungan anda dengan orang lain. Jika hal itu dilakukan bersama keluarga, anda akan merasakan lebih dekat dengan mereka. Hal ini juga berlaku jika anda berolahraga bersama dengan teman-teman anda. Selain itu, sangat mungkin bahwa anda mendapatkan teman-teman baru melalui berolahraga. Selain itu, orang-orang yang mencoba untuk mengurangi berat badannya, benar-benar membutuhkan dukungan dari teman-teman agar usahanya tersebut berhasil.
6. Berolahraga akan Melawan Penyakit
Penelitian menunjukkan bahwa berolahraga dapat memperlambat dan mencegah penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, osteoporosis dan banyak penyakit lainnya. Berolahraga bahkan bisa memperlambat proses penuaan dan juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dengan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih baik, setidaknya anda bisa mengurangi kemungkinan terkena penyakit flu dan penyakit umum lainnya.
7. Berolahraga akan Memompa Jantung Anda Lebih Baik
Berolahraga membuat jantung anda kuat. Fungsi jantung dan sistem kardiovaskular bekerja lebih efektif, dan ini dapat mengurangi plak dalam pembuluh darah (yang dapat mempersempit aliran darah), sehingga jantung akan memompa darah lebih baik. “Jika jantung anda menjadi lebih kuat, masing-masing pompa akan memberikan sejumlah besar darah dan ini dapat memperlambat detak jantung anda,” kata Todd A. Astorino dari California State University-San Marcos.
8. Berolahraga akan Memperbaiki Diet Anda
Otot membakar lebih banyak kalori daripada lemak tubuh ketika anda sedang beristirahat. Dengan demikian, semakin banyak otot yang kita miliki, semakin baik metabolisme yang kita alami. Tentu pembakaran kalori tidak hanya terjadi ketika anda berada dalam kondisi beristirahat, tetapi ketika berolahraga juga. Dengan tingkat metabolisme yang baik, seseorang dapat memiliki pola makan yang sehat. Selama tidak terlalu berlebihan, setiap makanan favorit dapat dikonsumsi.
9. Berolahraga Meningkatkan Stamina Anda
Setelah dilakukan selama beberapa minggu secara konsisten, seseorang dapat merasakan perbedaan dalam tubuhnya. Otot-otot telah dikembangkan dan perkembangan ini dapat dirasakan ketika ia melakukan tenis, golf, bola basket atau olahraga lain yang membutuhkan kekuatan otot. Pada saat itu penambahan kekuatan yang berasal dari otot-otot bisa dirasakan, kata Atkinson.
Selain itu, otot-otot akan dapat bekerja lebih efisien, lebih cepat bereaksi dan daya tahannya juga akan meningkat.


10. Penurunan Berat Badan Bukan Tujuan Utama
Berolahraga memang menurukan beberapa kilo dari tubuh anda, namun manfaat dari berolahraga tidak hanya untuk mencegah kelebihan berat badan. Menggunakan olahraga hanya sebagai alat untuk menurunkan berat badan tidak akan menjadi motivator yang kuat bagi seseorang untuk berhasil. Hal ini terjadi karena orang biasanya tidak sabar dan ingin melihat hasilnya dalam sekejap. Penurunan berat badan melalui olahraga tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Itulah mengapa motivasi dalam berolahraga tidak disarankan padapenurunan berat badan. Ada banyak tujuan yang lebih menggairahkan seperti merasakan hidup yang lebih baik, memiliki lebih banyak energi, mengurangi stres dll. Oleh karena itu, luangkan waktu untuk berolahraga tidak peduli seberapa sibuknya anda. Ingat pepatah : “Dalam tubuh yang sehat hidup jiwa yang kuat”.

Eksposisi
Apakah anda ingin menjadi lebih cerdas di kantor anda? bebas dari kepenatan rumah ? Mampu meluangkan waktu yang berkualitas dengan keluarga anda ? Semua keinginan tersebut dapat dipenuhi melalui berolahraga, itulah yang para ahli katakan tentang manfaat berolahraga, dengan berolahraga anda mendapatkan manfaat secara fisik dan psikologis

Minggu, 29 Maret 2015

Nama : Rivansyah Wirahadiutama
NPM : 16212496
Kelas : 3EA13

Fakta sebagai Unsur dari Penalaran Ilmiah
Dalam penalaran ilmiah dibutuhkan berbagai unsur yang dapat dibuktikan atau yang telah diverifikasi sesuai dengan bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera, bila dikumpulkan secara sistematis dan dilakukan secara sekuensial maka dapat melahirkan sebuah ilmu. Dengan begitu, kita dapat mengenali hubungan di antara fakta-fakta tersebut dengan melakukan penelitian selain itu kita dapat menggolongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah angota yang sama banyaknya, namun pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi.
1. Klasifikasi
Menghubungkan sejumlah fakta dengan suatu hubungan yang logis berdasarkan sistem.

2. Jenis klasifikasi
Klasifikasi sederhana, klasifikasi yang hanya memiliki dua kelas bawahan yang berciri positif dan negatif.
Klasifikasi kompleks, suatu klasifikasi yang memiliki lebih dari dua kelas bawahan

3. Persyaratan klasifikasi

Agar dapat mendapatkan kesimpulan yang sah tenteang sifat golongan tertentu yang berdasarkan satu atau beberap yang diamati diperlukan :

1. Generalisasi dan spesifikasi
2. Analogi
3. Hubungan sebab akibat

Sumber: www.zuwaily.blogspot.com

Rabu, 07 Januari 2015

EMPLOYEE MOTIVATION AS IT RELATES TO EFFECTIVENESS, EFFICIENCY, PRODUCTIVITY, AND PERFORMANCE

Allied Academies International Conference page 139
Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2 Maui, 2004
EMPLOYEE MOTIVATION AS IT RELATES TO
EFFECTIVENESS, EFFICIENCY, PRODUCTIVITY,
AND PERFORMANCE
Rob H. Kamery, Nova Southeastern University
robhkamery@yahoo.com
ABSTRACT
Employees may be motivated on the job by many things, such as a sense of achievement,
recognition, enjoyment of the job, promotion opportunities, responsibility, and the chance for
personal growth. Employee motivation and performance are tied directly to the style of
management that is applied and to principles of positive or negative reinforcement. This paper
discusses motivation as it relates to effectiveness, efficiency, productivity, and performance.
INTRODUCTION
Motivation can be induced by the employer or reside within the employee. Employees have
higher levels of motivation when they perceive that management cares about their welfare, when
they are involved in the management process, and when the management-labor environment is
positive. Control stifles motivation while involvement creates a more productive environment. If
the workers feel they are being treated fairly and with respect, this attitude will develop and guide
their behavior in a positive direction. To be motivated, they must be excited about and interested
in their jobs. Activities that can gain interest on the part of workers include employee participation
committees, task force efforts, training programs, opportunities for outside education, newsletters,
contests, and congratulatory messages from management (Kennish, 1998).
EMPLOYEE/MANAGER RELATIONSHIP
The key to motivating employees is remembering that not all employees are the same.
Something different makes each employee tick. In order to achieve motivation, managers must
know each employee. Managers must have a wide range of motivational techniques available. Each
employee has a different set of values and personal experiences that brought them to where they are
today. Employees are motivated by learning and should likewise be motivated to learn. Workers
should be offered regular opportunities to attend conferences in their field, seminars, or in-house
training programs (Buhler, 1998).
A supervisor can provide the environment in which employees are willing to motivate
themselves. The purpose of a motivating environment is to encourage every member of an
organization to motivate himself to contribute his best effort to the job at all times. A motivating
environment is not a permissive environment, but one where the expectations of each employee are
for their best work within their capability. A motivating environment is not necessarily one in which
page 140 Allied Academies International Conference
Maui, 2004 Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2
all employees are happy all of the time. A motivating environment may produce satisfied
employees, which in turn may make many employees happy. A motivating environment exists with
conditions of high standards, clear objectives, adequate training, effective leadership, rewards that
employees value, and adequate working conditions (Capozzoli, 1998).
The standards to which people are expected to produce should be high, but not so high that
they can never reach them. People will produce to the level of expectation as long as it is not
excessively high. When a manager delegates work to an employee, he or she should be sure the
employee understands all of the standards of the assignment. Every employee wants and needs to
know what is expected. This goes along with the standards that have been set. They must have
adequate training to be able to do the tasks that they are assigned. Employees may get angry and
frustrated if they do not know how to do the job. They want and need to be able to trust their leaders
and know that what the leader tells them is true. It is important for supervisors to have integrity and
to earn the trust of their employees. When an employee does a good job, the supervisor can reward
that employee with something that is valuable to them. If it is expected for the employees to do a
good job, then they must have adequate working conditions. Poor lighting, too much noise, or
uncomfortable temperatures make it difficult for employees to produce both quality and quantity
(Capozzoli, 1998).
TRUE MOTIVATORS
When considering motivators, longevity and effectiveness are important. Motivators such
as fear or incentives have effects that can be counterproductive or short-lived. Thus, the use of
internal motivational factors needs to be considered (Helminger, 1997). "Beecher once said, 'God
made man to go by motives, and he will not go without them any more than a boat without steam,
or a balloon without gas. Find out what motivates man, touch that button to turn the key that makes
men achieve'" (Helminger, 1997).
This idea leads to the debate over where change should occur in terms of employee
motivation. Simply changing the individual usually takes too much time and effort and does not
reap the benefit of helping other employees as much as a company-wide change. However,
managers are primarily interested in how to motivate individuals on the job. Their main focus
should be designing jobs that meet the demands of the organization as well as the skills and abilities
of their employees. Employees are empowered and motivated when they assume additional
planning and evaluating responsibilities through job enrichment. In turn, this enrichment will
benefit the company because they have employees who are better prepared to deal with everyday
situations.
Managers can increase employee motivation by seeking employees' input on daily decisions.
The ability to make good decisions should not be the sole responsibility of the managers, but a
concerted effort by individuals with the best knowledge of the situation. When employees are
encouraged to make their own decisions, managers should not micromanage, but allow employees
to learn from their mistakes and learn to tolerate some learning errors. Other motivators that can
be implemented by management include providing social interaction and teamwork, implementing
goals and challenges, and instituting employee appreciation programs (Zimmer, 1998).
Allied Academies International Conference page 141
Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2 Maui, 2004
Some examples of motivators used by various organizations include educational assistance
programs, stock options, and savings plan benefits. All of these represent long-term programs that
are specifically designed to increase worker satisfaction and effectiveness. It is the policy of many
organizations to encourage employees to take college-level courses to increase effectiveness in their
present positions or prepare them for increased or new responsibilities. Many organizations will
reimburse 100 percent of the cost of tuition, books, entrance exam fees, and lab fees for courses
toward a job-related bachelor's degree and/or a master's degree. Many will also reimburse these
costs for non-degree courses if the material covered is job-related. The corporate standard is that
reimbursement is contingent upon the satisfactory completion of the course with a grade of "C" or
better.
In terms of stock options and savings plans for employees, some organizations require that
employees be 21 years of age or older and have at least 1,000 hours of service in order to be eligible.
Once these requirements are met, the employee is eligible to participate in the employee retirement
savings and stock plans. The savings plan allows employees to defer up to a certain percent of their
annual salary, and the organization matches the first few percentage points of deferral and
contributes 50 percent of the next one percent of deferral to each participant's account. Employees
become 100 percent vested in the company-matching portion of their account after five years of
service. In addition, the board of directors makes an annual contribution (based on the results of
operations) in the form of company stock to the plan.
MOTIVATIONAL JOB DESIGN
In order to be effective, management should be concerned with motivating individuals on
the job. Therefore, managers should seek different methods of designing motivating jobs. Job
design should incorporate environmental dynamics, the organization's resources, and individual
preference. Job enlargement, job enrichment, and the job characteristics model are three methods
that can be used in the process of designing motivating jobs (Robbins & Coulter, 1996).
Job enlargement is a type of horizontal expansion designed to overcome the narrow focus
of highly specialized jobs. It involves the concept of knowledge enlargement--enrichment of the
individual through increased job knowledge/training. Some examples of the results of enrichment
include increased worker satisfaction, enhanced customer service, and increased accuracy. In
contrast, job enrichment is a vertical expansion that provides for increased worker responsibility
(i.e., planning and evaluating duties). Greater responsibility increases job depth (worker control)
and results in employee empowerment. This empowerment often leads to a higher quality of output
and employee motivation since workers feel connected to their jobs. The job characteristics model
is a method of job analysis and design which identifies five job characteristics: 1) skill variety
(range of skill/talent), 2) task identity (worker-task connection), 3) task significance (degree of
impact), 4) autonomy (worker freedom/independence), and 5) feedback (worker
critique/performance evaluation).
The above characteristics measure the intrinsic rewards derived by workers via increased
knowledge and performance review--such rewards have led to greater motivation, performance, and
satisfaction while decreasing employee absenteeism and turnover rates. According to the job
characteristics model, managers should: 1) combine tasks to increase skill and task identification,
page 142 Allied Academies International Conference
Maui, 2004 Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2
2) create natural work units to encourage worker-task identification, 3) establish client relationships
to increase variety, obtain valuable feedback, and increase worker autonomy, 4) expand jobs
vertically via job enrichment, and 5) open feedback channels via employee performance reviews
(Robbins & Coulter, 1996).
Employers and managers must also realize that sometimes it becomes necessary to take a
break from the job. This helps to reduce stress that can build up in a person who is faced with a high
degree of job enlargement. Friendships can also be made during these periods of relaxation. This
is possible through company gatherings and/or parties. Many organizations sponsor company
picnics at recreational facilities for employees and their families. These facilities are rented at the
company's expense and lunch is often catered. Activities such as door prizes, bingo, face painting,
etc. are offered (also at the company's expense). In addition, many organizations sponsor a
Christmas party for employees and their spouses/dates. This event is also usually catered and
entertainment is provided at the company's expense. Most organizations appreciate the work
endeavors of their employees and wish to convey thanks via social gatherings such as these. Most
organizations believe that it is important to promote healthy work relationships, and these events
place employees face-to-face with individuals they might not encounter during a normal workday
(i.e., executive management, manufacturing personnel, second/third shift employees).
MOTIVATIONAL THEORIES
Because each organization has a distinct personality, managers should try and remove
barriers from their organization that cause job dissatisfaction and are a detriment to motivating
employees. Factors such as company politics, unproductive meetings, withholding information, and
unfairness lead to low morale and overall job dissatisfaction (Robbins & Coulter, 1996).
Another theory related to employee motivation is the equity theory. This theory suggests
that individuals compare their performance and compensation against their co-workers' performance
and compensation and act to correct any inequities. For example, two workers are paid an hourly
rate for the same task; however, worker A is paid more per hour than worker B. Thus, worker B may
act to correct this inequity or just continue to perform below his or her potential. Similarly, worker
A will increase his work efforts given his or her elevated level of compensation (Robbins & Coulter,
1996).
Recent studies have expanded the concept of employee motivation beyond job design and
identified issues such as motivating a diverse workforce, pay-for-performance programs, and
employee stock ownership plans (ESOPs) (Robbins & Coulter, 1996). Researchers suggest that
management exercise flexibility when confronting a diverse workforce. For example, different
groups of workers have different needs. A single mother may need daycare or a second job and
therefore require specific motivators. Research also suggests that tailoring rewards to the individual
worker can be a highly motivational tool. A few such tailored rewards in use today include
compressed workweeks (four 10-hour days), flextime (set number of hours, with flexible
scheduling), job sharing, and telecommuting (Robbins & Coulter, 1996).
Pay-for-performance plans are designed to link specific performance goals with employee
compensation. Since most individuals work to obtain the amount of money required to meet their
needs and wants, these types of plans can be highly motivating since they positively relate the
Allied Academies International Conference page 143
Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2 Maui, 2004
amount of pay with the amount of work effort. Pay-for-performance programs compensate
employees based on some pre-determined performance measurement (objective). Examples include
piece-rate pay plans, wage incentive plans, profit sharing, and bonus plans.
Performance measurements may include individual or team goals, departmental objectives,
or overall organizational profit. The basis for such programs is that by making a portion of an
employee's compensation contingent on some specific performance objective, he or she will be more
focused and devote more effort toward attaining that objective (Robbins & Coulter, 1996).
Some organizations have management incentive programs under which managers and
executive managers pledge to meet certain MBOs by year-end. At the end of the period, their
performance is measured against these MBOs and compensation is granted according to the
organization's results of operations for the year. These programs work well for management;
however, as only a targeted group of employees are allowed to participate, the overall success is
debatable.
Yet another type of specific reward program is The Idea Program (TIP). In this program,
employees are encouraged to submit cost savings ideas, and an appointed TIP committee researches
every idea to determine the cost savings, if any, that are applicable. The idea program awards are
granted on a quarterly basis, and the amount (up to a certain dollar amount) is based on the projected
cost savings. Employees should be recognized at the state-of-the-company meeting and in the
company newsletter. They also might receive a plaque for their idea.
CONCLUSION
There are many factors that play into the concept of employee motivation. The first
necessary step is to determine what motivational tools will actually be effective in each particular
situation. Some tools may work for some companies, but not for others and vice versa. It is
important to note that the decisions dealing with motivation are based upon several theories.
No single theory seems best suited for every situation; therefore, theories are often combined
to provide the best possible combination to motivate employees. Although no single theory works
all the time, there is an underlying theme to all of the theories that respect and participation are two
key items that employees tend to appreciate. Oftentimes, the existence or nonexistence of these two
factors can determine how productive an employee will or will not be. It is important to note that
these two factors are almost always more important than monetary compensation. Of course, there
are some individuals for whom this generalization will not apply. Also, many of the motivational
theories that have been developed are used in industry today. However, they have been modified
to meet specific needs of the particular company.
REFERENCES
Buhler, P. (1998). Motivating the employee of the 90s. New York: Irwin Publishers, 8-11.
Capozzoli, T.K. (1998). Creating a motivating environment for employees. New York: McGraw-Hill Inc., 16.
Helminger, W. (1997). Human resources. Retrieved August 12, 1998, from http://www.cratus. comlresources/html
page 144 Allied Academies International Conference
Maui, 2004 Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2
Kennish, J.W. (1998). Motivating with a positive participatory policy. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc., 22-24.
Robbins, S.P. & M. Coulter (1996). Management (Fifth Edition). Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc.

Zimmer, E. (1998). The entrepreneur network. Retrieved August 12, 1998, from http://www.tenonhne.org/art/9611.html

Minggu, 16 November 2014

Kau adalah Inspirasiku

Kau adalah Inspirasiku
Kau bagaikan sang surya
Menerangiku dalam kegelapan
Kau bagaikan kompas mata
Menunjukan jalan ke depan

            Bila melakukan kesalahan
            Kau ingatkan ku selalu
            Bila melakukan kebaikan
            Kau dukungku selalu

Wahai tuhan
Sayangilah mereka
Wahai tuhan
Lindungilah mereka


I love you ayah, I love you bunda