Minggu, 19 Oktober 2014

PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN BAKSO DI MALANG


PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN BAKSO DI MALANG


THE CONSUMERS` BEHAVIOR IN PURCHASING MEATBALLS IN MALANG


Budi Hartono*, Umi Wisapti Ningsih, dan Nila Fithria Septiarini
Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Malang, Jawa Timur


INTISARI


Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik dan faktor yang mempengaruhi pembelian bakso sapi di Malang. Penelitian dilakukan di Malang, Jawa Timur pada bulan Maret 2011. Jumlah responden sebanyak
120 konsumen yang dipilih secara Accidental Sampling. Data dianalisis dengan cara deskriptif dan analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden melakukan pembelian bakso adalah perempuan, berstatus pelajar, mempunyai umur di bawah 35 tahun, pendapatan individu yang diperoleh antara Rp. 1.000.000,00 sampai Rp.
2.000.000,00 per bulan dan harga bakso dikategorikan terjangkau oleh konsumen. Pola mengkonsumsi bakso bukan sebagai makanan pokok tetapi sebagai kuliner, hobi, dan makanan camilan. Delapan faktor yang dipertimbangkan responden secara berurutan adalah harga, kelas sosial, kemudahan mencapai lokasi, parkir, tampilan penyajian, kepuasan, pendapatan, dan demografi.


(Kata kunci: Perilaku konsumen, Faktor yang dipertimbangkan, Bakso)


ABSTRACT


The objective of this research were to analyzed the characteristics and the factors influencing the purchasing of meatballs in Malang. The research was conducted in Malang, East Java in March 2011. One hundred and twenty consumers were chosen as respondents by Accidental Sampling method. Data were analyzed by descriptive and factor analyses. The results showed that most customers were women, student status, with the age below 35 years old, and incomes level of IDR 1.000.000,00 into IDR 2.000.000,00 per month. The meatball`s price was affordable by the consumers. The meatball`s purchasing patterns showed that the meatball was consumed not as a main meal but only for culinary, hobby and also as snacks. The eight factors considered by consumers of meatball purchasing consecutively were price, social class, accessibility, parking, display presentation, satisfaction, income and demographics, respectively.


(Key words: Consumer`s behavior, Considerance factor, Meatball)



Pendahuluan

Kota Malang juga dikenal sebagai kota Bakso selain   kota   Apel Bakso   merupakan   makanan daging sapi yang dicampur dengan terigu yang dimasak dengan proses tertentu untuk dikonsumsi. Bakso sangat populer dan digemari semua kalangan dengan harga yang bervariasi dan terjangkau oleh konsumen. Tarwotjo et al. (1971) menjelaskan bahwa bakso daging sapi merupakan sumber protein hewani  karena  daging  sapi  mengandung  protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Usaha bakso membutuhkan tenaga kerja mulai dari lokasi penggilingan, sampai daerah produsen dan pe- masaran. Bakso dibuat menggunakan daging segar agar dihasilkan bakso yang kenyal dan kompak. Bahan  baku  bakso  umumnya  berasal  dari  daging

* Korespondensi (corresponding author): Telp. +62 815 689 5246


paha belakang sapi, akan tetapi dapat juga dibuat dari bagian karkas lainnya.
Usaha   bakso   dapat   digolongkan   sebagai usaha  kecil.  Parubak  et  al.  (2004)  menjelaskan
bahwa usaha kecil mempunyai peranan penting dan strategis dalam mewujudkan  pembangunan  nasio-
nal.  Usaha  kecil  merupakan  usaha  yang  ditekuni oleh sebagian besar masyarakat dan merupakan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan
memberikan pelayanan yang luas kepada masya- rakat.  Pemerintah  terus  berupaya  membina  ke-
lompok   usaha   keci agar   menjadi   usaha   yang semakin efisien dan mampu berkembang   mandiri
dan dapat membuka lapangan kerja baru.
Dua faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusa konsumen    dalam   melakukan   pem-
belian  yaitu  faktor  internal  dan  faktor  eksternal
(Asseal, 1992). Faktor eksternal  terdiri  dari  faktor




lingkungan dan strategi bauran pemasaran. Faktor lingkungan terdiri dari faktor budaya, referensi dan kelas sosial. Strategi bauran pemasaran terdiri dari produk, harga, promosi, dan distribusi. Faktor internal terdiri dari faktor gagasan dan karakteristik konsumen. Faktor internal dan eksternal dalam interaksinya dapat mempengaruhi perilaku kon- sumen baik secara individual maupun secara bersama-sama.
Konsumen melakukan pembelian tidak terlepas dari karakteristik produk baik mengenai penampilan, gaya, mutu dan harga dari produk tersebut. Penetapan harga oleh penjual akan ber- pengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen, sebab harga yang dapat dijangkau oleh konsumen akan cenderung membuat konsumen melakukan pembelian terhadap produk tersebut. Karakteristik penjualan bakso akan mempengaruhi keputusan membeliKonsumen  akan  menilai  mengenai penjual, baik mengenai pelayanan, mudahnya mem- peroleh produk dan sikap ramah dari penjual (Tedjakusuma et al., 2001).
Penjual bakso harus memahami keinginan konsumen    dengan    cara    mempelajari    perilaku
konsumen agar konsumen bersedia membeli baksonya.  Pemahaman  perilaku  konsumen  yang
baik dan tepat diharapkan akan mengembangkan kegiatan pemasarannya. Penjual bakso daging perlu mengenal konsumen, sasaran dan model  keputusan
yang dilakukan oleh konsumen, sehingga penjual bakso  daging  mengetahui  motif  konsumen  dalam
menilai bakso daging yang sesuai dengan hati nuraninya. Analisis faktor digunakan untuk menentukan  urutan  faktor  yang  dipertimbangkan
oleh  konsumen  dalam  membeli  bakso  daging  di
Kota Malang, sehingga perlu dilakukan penelitian agar     penjual    bakso    dapat    mempertahankan
eksistensinya.

Materi dan Metode


menentukan urutan faktor yang dipertimbangkan oleh  konsumen  dalam membeli  bakso. Jenis data yang digunakan analisis faktor adalah data ordinal dan skala pengukuran yang digunakan adalah skala Likert.

Hasil dan Pembahasan

Gambaran umum responden
Hasil survei menunjukkan bahwa usia konsumen yang mendominasi adalah kelompok usia
16–25 tahun sebanyak 62,5% dan usia 26–35 tahun
sebanyak 25,83% (Tabel 1). Kelompok usia ini tergolong usia produktif sehingga memerlukan kandungan nutrisi yang cukup bagi tubuh dan perlunya menjaga kesehatan. Konsumen pada usia muda (remaja) dipengaruhi oleh aktifitas yang ditekuninya, teman-teman, dan penampilan dari generasi tersebut. Usia responden diatas 45 tahun lebih sedikit dikarenakan pada usia ini seseorang lebih berhati-hati dalam memilih dan meng- konsumsi makanan yaitu lebih memilih makanan yang terbuat dari sayur-mayur (Kasali, 1998 cit. Hermanianto dan Andayani, 2002).
Hasil survei menunjukkan (Tabel 2) bahwa responden perempuan (53,33%) lebih banyak dijumpai dibanding laki-laki (46,67%) karena perempuan mempunyai kecenderungan senang berkumpul dan sering secara bersama-sama mem- beli atau jajan bakso dengan tidak direncanakan. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Hermanianto dan Andayani (2002) yang menjelaskan bahwa pembeli bakso lebih didominasi kaum perempuan karena perempuan mempunyai kecenderungan lebih senang berbelanja, mudah terpengaruh oleh emosi dan menyukai jajan atau ngemil. Alasan ini yang melatarbelakangi wanita sebagai konsumen terbesar bakso sapi.

Tabel 1. Karakteristik responden berdasarkan usia
(characteristics of respondents by the age)


Penelitian dilakukan dengan metode survei di                                          


Kota Malang dengan pertimbangan bahwa Kota Malang dikenal sebagai Kota Bakso. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Maret 2011 di lima lokasi terbesar yang diambil secara purposive sampling yaitu Bakso Solo Kidul Pasar, Bakso Kota Cak Man, Bakso Bakar Pahlawan Trip, Bakso Presiden dan Bakso Duro Kepanjen. Jumlah sampel sebanyak 120 responden yang diambil secara Accidental Sampling. Pengumpulan data primer dengan melakukan tanya jawab dengan responden berdasarkan  kuesioner yang telah dipersiapkan.
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendiskripsikan  karakteristiresponden  yang diteliti serta distribusi item dari tiap variabel dalam angka persentase. Analisis  faktor digunakan untuk


  Usia (tahun) (age (years))   Persentase (percentage)
16 – 25                                  62,50
26 – 35                                  25,83
36 – 45                                    9,17
46 – 55                                    1,67
                 56 –  65                                     0,83   
Jumlah (total)                           100,00

Tabel 2. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin (characteristics of respondents by sex)

    Jenis kelamin (sex)         Persentase (percentage)  Laki-laki (male)                                    46,67
  Perempuan (female)                             53,33       
Jumlah (total)                              100,00




Kelompok sasaran berdasarkan pendidikan yang ditempuh konsumen menunjukkan bahwa sebanyak 44,17% responden memiliki pendidikan akhir SMU dan 39,17% responden memiliki pen- didikan akhir sarjana (Tabel 3), sehingga sebagian besar konsumen adalah berpendidikan tinggi dan terpelajar.  Pendidikan  sebagai  faktor  psikologis yang berpengaruh terhadap jenis dan mutu bahan makanan yang akan dikonsumsi. Hal ini memper- lihatkan bahwa tingkat pemahaman dan pe- ngetahuan seseorang tentang pentingnya kandungan gizi  dipengaruhi  oleh  tingkat  pendidikan  (Kasali,
1998 cit. Hermanianto dan Andayani, 2002).
Data berdasarkan alasan konsumen membeli bakso  menunjukkan  bahwa  mayoritas  konsumen
mengkonsumsi bakso karena bukan sebagai maka-
nan utama (3,33%) tetapi sebagai kuliner, hobi, makanan  camilan  (Tabel  4).  Konsumen  membeli
bakso kuah umumnya dicampur dengan makanan
lain seperti gorengan, tahu atau sedikit mie basah. Responden membeli bakso biasanya di tempat ter- kenal dan memiliki rasa yang sesuai dengan selera konsumen.
Produk bakso tetap digemari oleh konsumen. Karakteristi utam responden   dalam   membeli
bakso adalah daya beli konsumen yang dapat diper-
hatikan dari penghasilan yang diperoleh konsumen setiap bulan. Kebanyakan konsumen membeli bakso selain memperhatikan harga juga memperhatikan cara penyajian yang cepat dan praktis. Rerata harga


bakso  satu  porsi  di  MalanRp.  5.000,00.  Hasil survei menunjukkan bahwa harga satu porsi bakso tersebut adalah sedang (Tabel 5) atau cukup yang berarti tidak terlalu mahal ataupun tidak terlalu murah, sedangkan bakso tersebut dianggap kon- sumen bukan sebagai makanan utama.

Analisis faktor
Hasi analisi faktor   perilak konsumen
dalam pembelian bakso di Malang menghasilkan 8 faktor yang terbentuk (Tabel 7). Tabel 7 memper- lihatkan bahwa faktor-faktor yang terbentuk merupakan faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam pembelian bakso di Malang sebesar 63,76% dan  sisanya  sebesar  37,14%  merupakan  faktor- faktor yang tidak terlalu dipertimbangkan oleh konsumen. Untuk lebih jelasnya akan dibahas interpretasi tiap faktor dari kedelapan faktor yang terbentuk (Tabel 7).
Faktor persepsi konsumen merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli produk bakso daging sapi memiliki persentase varian sebesar 16,69% dan merupakan urutan pertama yang dipertimbangkan oleh kon- sumen karena mempunyai nilai Eigen Value ter- besayait3,672. Variabel  yang  memiliki  factor loading terbesar pada persepsi konsumen adalah variabel harga yaitu sebesar 0,717 yang artinya variabe harg memiliki   korelasi   sangat   kuat terhadap   fakto persepsi   konsumen Responden




Tabel 3. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan (characteristics of respondents by education)


Tabel 5. Karakteristik responden berdasarkan harga
(characteristics of respondents by price)

Harga (price)                       Persentase


Pendidikan (education)                 Persentase                                                                       (percentage)            


                                                                  (percentage)          
SD/Sederajat (elementary school)              0,83
SMP/Sederajat (junior high school)           5,83
SMU/Sederajat (senior high school)        44,17
Akademi/Sederajat (academy)                  10,00
  Sarjana (under/graduate school)              39,17        Jumlah (total)                       100,00

Tabel 4. Karakteristik responden berdasarkan alasan


Sangat mahal (very expensive)                 3,33
Mahal (expensive)                                  13,33
Sedang (medium)                                   57,50
Murah (cheap)                                        19,17
  Sangat murah (very cheap)                      6,67       Jumlah (total)                        100,00

Tabel 6. Karakteristik responden berdasarkan pendapatan (characteristics of respondents by income)


mengkonsumsi bakso (characteristics of respondents                                                           
by reasons consuming meatballs)




Alasan mengkonsumsi bakso




Persentase


Pendapatan (Rp) (income (Rp))         Persentase
                                                              (percentage)    
< 500.000                                                  21,67


     (reason consuming meatballs)         (percentage)
Makanan utama (the main food)                 3,33
Makanan camilan (snack foods)               31,67
Hobi (hobby)                                             31,67
  Kuliner (culinary)                                     33,33     Jumlah (total)                          100,00


500.000 – 1.000.000                                  13,33
1.000.001 – 1.500.000                               28,33
1.500.001 – 2.000.000                               24,17
  > 2.000.000                                               12,50          Jumlah (total)                          100,00



Tabel 7. Analisis faktor perilaku konsumen dalam pembelian bakso (factor analysis of consumer behavior in purchasing meatballs)

Faktor (factor)
Variabel (variable)
Eigen value
Loading factor
%
Persepsi konsumen
-Kepercayaan (confidence)

0,429

(consumer perception)
-Produk terkenal (famous products)

0,551


-Ukuran produk (size of product)
3,672
0,675
16,69

-Harga (price)

0,717

Lingkungan
-Kebudayaan (culture)

0,680

(environment)
-Kelas sosial (social class)
-Kelompok sosial (social groups)
2,048
0,741
0,729
9,31
Referensi (reference)
-Pengetahuan (knowledge)

0,577


-Faktor promosi (promoting factor)
-Kemudahan mencapai lokasi (ease of reaching
1,915
0,623
0,814
8,71

Kepedulian produsen
the location)
-Kenyamanan (convenience)


0,486

(concern manufacturer)
-Tempat parkir (the parking lot)

0,780


-Kebersihan tempat (hygiene place)
1,529
0,758
6,95

-Pelayanan produsen (producer service)

0,482

Karakteristik produk
-Tampilan penyajian (view presentation)

0,924

(characteristics of
-Rasa dan tekstur (the taste and texture)
1,526
0,609
6,94
product)




Pengalaman (experience)
-Kepuasan sebelumnya (previous satisfaction)

0,798


-Hobi (hobbies)
1,246
0,588
5,66
Kepuasan konsumen
(consumer satisfaction)
-Pendapatan (revenue)
-Kepribadian (personality)

1,054
0,748
0,716

4,79
Karakteristik konsumen
-Demografi (demographics)
1,036
0,767
4,71
(characteristics of




consumers)





Jumlah (total)


63,76


mempertimbangkan harga bakso karena menurut penilaian responden tingkat harga akan mem- pengaruhi  jumlah  pembelian  suatu  produk  yang akan dikonsumsi. Hal tersebut diperkuat dengan penilaian  hargtidak  terlalu  mahal  untuk  setiap porsi bakso adalah Rp. 5.000,00 yang termasuk kategori sedang (57,5%) (Tabel 5), sehingga apabila harga bakso terlalu tinggi maka responden akan mempertimbangkan ulang sebelum membeli produk tersebut.
Faktor lingkungan memiliki persentase varian sebesar 9,310% dan memiliki urutan kedua faktor yang dipertimbangkan oleh konsumen dengan nilai Eigen Value terbesar yaitu 2,048. Variabel yang memiliki factor loading terbesar pada faktor lingkungan  adalah  variabel  kelas  sosial  sebesar
0,741 yang artinya bahwa variabel kelas sosial memiliki korelasi kuat terhadap faktor lingkungan,
sedangkan  variabel  yang  memiliki  factor  loading
terkecil adalah variabel kebudayaan sebesar 0,680 yang artinya bahwa variabel kebudayaan memiliki
korelasi  paling  lemah  jika  dibandingkan  dengan
kedua variabel lain yang mendukung pada faktor lingkungan.


Kebudayaan tidak terlalu dipertimbangkan oleh responden, dikarenakan responden membeli produk bakso bukan karena adat atau kebiasaan masyarakat  tertentu  untuk  mengkonsumsi  produk ini. Produk ini bukan menjadi makanan utama bagi responden. Hal ini diperkuat dengan penilaian responden bahwa produk bakso bukan menjadi makanan utama hanya 3,33% (Tabel 5). Produk ini dikonsumsi hanya sebagai kuliner, hobi, dan makanan camilan.
Kelas sosial responden mempertimbangkan untuk membeli produk bakso tersebut. Tingkat penghasilan responden sangat berpengaruh terhadap pembelian produk bakso. Penghasilan yang lebih akan mempengaruhi kemudahan responden untuk membeli produk tersebut. Hal ini diperkuat dengan data    responden    yang    memiliki    penghasilan Rp.  1.000.000,00   Rp.  2.000.000,00    sebanyak
52,50%  (Tabel  6)  akan  membeli  produk  tersebut lebimudah  karena  menganggap  produk tersebut
memiliki harga yang relatif terjangkau.
Faktor referensi memiliki persentase varians sebesar  8,707%  merupakan  faktor  urutan  ketiga
yang dipertimbangkan  oleh konsumen dengan nilai




Eigen Value terbesar yaitu 1,915. Variabel yang memiliki factor loading terbesar adalah variabel kemudahan mencapai lokasi sebesar 0,814 yang artinya bahwa variabel kemudahan mencapai lokasi memiliki korelasi kuat terhadap faktor referensi.
Faktor  yang   menyebabkan  perilaku  pem- belian   seseorang   bisa   jug dipengaruh oleh
referensi kelompok. Referensi kelompok adalah kelompok  sosial  yang  menjadi  ukuran  seseorang
(bukan anggota kelompok tersebut) untuk mem- bentuk kepribadian dan perilakunya (Sudarmiatin,
2009).  Tingkat  pengetahuan  yang  kurang  pada
responden terhadap lokasi-lokasi pemasaran produk bakso menjadi pertimbangan konsumen untuk menerima pendapat atau masukan-masukan yang diberikan oleh orang-orang disekitar responden. Faktor promosi disini sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk tersebut oleh res- ponden. Faktor promosi salah satunya yaitu tentang kemudahan mencapai lokasi produk tersebut di- pasarkan. Kemudahan mencapai lokasi tersebut sangat dipertimbangkan responden untuk membeli produk tersebut, karena apabila lokasi tersebut sulit dijangkau  makresponden  akan  memililokasi yang lainnya.
Faktor  kepedulian  produsen  memiliki  per- sentase varians sebesar 6,951% dan memiliki urutan
keempat  faktor  yang  dipertimbangkan  oleh  kon-
sumen  dengan  nilai  Eigen  Value  terbesar  yaitu
1,529. Variabel yang memiliki factor loading ter- besar adalah variabel tempat parkir sebesar 0,780 yang artinya bahwa variabel tempat parkir memiliki korelasi kuat terhadap faktor kepedulian produsen.
Tempat parkir pada lokasi penjualan produk sangat  dipertimbangkan  oleh  responden,  karena
konsumen akan lebih merasa nyaman jika pada saat
menikmati bakso, kendaraan yang  diparkir terletak pada tempat yang aman dan diawasi oleh petugas parkir. Sulistyawati (2004), menyatakan bahwa ter- sedianya sarana parkir yang memadai dan aman merupakan faktor yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian suatu produk, karena hal ini dapat memberikan keamanan dan kenyamanan terutama dari gangguan pengamen, pedagang asongan dan pengemis.
Kebersiha tempat   jug dipertimbangkan oleh responden, karena lokasi yang bersih, sarana
dan  prasarana  yang  bersih,  serta  sirkulasi  udara
yang lancar akan menambah nafsu makan res- ponden. Kebersihan tempat merupakan salah satu yang harus diperhatikan oleh pemilik usaha produk tersebut dikarenakan apabila tempat penyajian produk tidak bersih akan menyebabkan penyebaran penyakit yang ditularkan oleh konsumen kepada konsumen yang lainnya.
Faktor karakteristik produk memiliki persen- tase varian sebesar 6,938%. Variabel tampilan pe-


nyajian  memiliki  factor  loading  terbesar 0,924 bahwa  variabetampilan  penyajian  memiliki korelasi kuat terhadap faktor karakteristik produk.
Tampilan penyajian suatu produk sangat dipertimbangkan  oleh  responden  dalam  membeli
bakso  daging  sapi.  Penyajian  produk  yang  di-
berikan pada responden kurang menarik akan mengurangi  selera  makan  responden  begitu  juga
sebaliknya jika penyajian produk terlihat menarik
maka responden akan bertambah selera makan. Tampilan penyajian suatu produk sangat berkaitan dengan rasa dan tekstur produk yang disajikan.
Faktor  pengalaman  memiliki  persentase varian  sebesar  5,663%.  Variabel  yang  memiliki
factor loading terbesar adalah variabel kepuasan sebelumnya sebesar 0,798 yang artinya bahwa variabel  kepuasan  sebelumnya  memiliki  korelasi
kuat terhadap faktor pengalaman.
Kepuasan pembelian produk sebelumnya merupakan   salah   sat hal   yang   sangat   diper-
timbangkan oleh responden dalam pembelian pro-
duk tersebut. Hal ini dikarenakan pengalaman pem- belian produk sebelumnya akan menjadi kesan tersendiri bagi para responden. Apabila responden merasa puas pada saat membeli produk sebelumnya maka responden akan membeli produk tersebut kembali. Selain itu hobi merupakan suatu hal yang berpengaruh terhadap responden dalam pembelian produk tersebut karena produk bakso daging sapi merupakan makanan yang banyak digemari oleh berbagai kalangan masyarakat sehingga banyak responden yang membeli produk tersebut karena kesenangan atau hobi mengkonsumsi produk tersebut.
Faktor kepuasan konsumen memiliki persen- tase varian sebesar 4,790%. Variabel yang memiliki factor loading  terbesar adalah variabel pendapatan sebesar 0,748 yang artinya bahwa variabel ini me- miliki korelasi kuat terhadap faktor kepuasan konsumen.
Pendapatan berkaitan dalam mempertimbang- kan pembelian produk bakso. Responden yang me-
miliki  pendapatan  lebih  banyak  cenderung  me-
miliki kepribadian yang boros atau lebih mudah menghambur-hamburkan uang untuk mendapatkan
kepuasan, sehingga responden lebih banyak mem-
beli produk tersebut untuk memenuhi kepuasan mengkonsumsi produk tersebut. Sebaliknya jika responden  berpenghasilan lebih  sedikit  cenderung memiliki  kepribadian  yang  lebiterkendali sehingga para responden tidak hanya memikirkan kepuasan semata. Sulistyawati (2004) menyatakan bahwa  tingkat  pendapatan  juga  mempunyai pengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen. Pendapatan yang dimaksud disini adalah pen- dapatan   individu  konsumen.  Pendapatan  menjadi hal  yang  sangat  penting  karena  keputusan  pem-




belian erat kaitannya dengan tingkat pendapatan seseorang dan pengeluaran seseorang. Semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang cenderung semakin tinggi pula pengeluaran yang dilakukan.
Faktor karakteristik konsumen memiliki per- sentase  varian  sebesar  4,708%  dan  merupakan urutan kedelapan yang dipertimbangkan oleh kon- sumen karena mempunyai nilai Eigen Value ter- besar yaitu 1,036. Variabel demografi sudah pasti memiliki factor loading terbesar karena variabel demografi merupakan variabel satu-satunya yang diwakili faktor karakteristik konsumen yaitu sebesar
0,767 yang artinya bahwa variabel demografi me- miliki korelasi yang sangat kuat terhadap faktor karakteristik konsumen.
Demografi konsumen didekati dengan variabel-variabel seperti usia, jenis kelamin,   pen-
didikan, dan pendapatan. Responden wanita cenderung  lebih  senang  berbelanja,  mudah  ter-
pengaruh oleh emosi, dan menyukai jajan atau makanan camilan.

Kesimpulan

Sebagian besar responden yang melakukan pembelian bakso adalah perempuan, berstatus pelajar, mempunyai umur di bawah 35 tahun, pendapatan    individu    yang    diperoleh    antara Rp.  1.000.000,00  sampai  Rp.  2.000.000,00  per bulan dan harga bakso Rp. 5.000,00 seporsi dapat dikategorikan terjangkau. Pola mengkonsumi bakso bukan   sebagai   makanan   pokok   tetapi   sebagai kuliner, hobi, dan makanan camilan. Delapan faktor yang dipertimbangkan responden secara berurutan adalah harga, kelas sosial, kemudahan mencapai lokasi, parkir, tampilan penyajian, kepuasan, pen- dapatan, dan demografi.


Daftar Pustaka

Asseal,  H.  1992.  Consumer  Behavior  and Marketing Action. New York: PWS-KENT. Publishing Company, Boston.
Hermanianto, J. dan R.Y. Andayani. 2002. Studi perilaku konsumen dan identifikasi parameter
bakso sapi berdasarkan preferensi konsumen di wilayah DKI Jakarta. Jurnal Teknologi dan
Indutri Pangan 13(1): 1-10.
Parubak,  B.,  A.  Thoyib,  dan  A.  Suman.  2004.
Faktor faktor yang dipertimbangkan kon- sumen  dalam  pembelian  kain  donggala  di
Kotamadya Palu. Kumpulan Artikel Seminar
Hasil Penelitian. Bidang Kajian Perilaku Konsumen. Program Magister Manajemen. Pascasarjana, Universitas Brawijaya. Malang. Hal. 1-12.
Sudarmiatin.   2009.   Model   perilaku   konsumen dalam perspektif teori dan empiris pada jasa
pariwisata. Jurnal Ekonomi Bisnis 14(1): 1-
11.
Sulistyawati, E. 2004. Analisis faktor faktor yang mempengaruhi   perilak konsumen   dalam
keputusan  pembelian  produk  patung  kayu pada toko kerajinan di Kecamatan Sukawati,
Gianyar,  BaliKumpulan  artikel  Seminar Hasil Penelitian. Bidang kajian Perilaku Konsumen.  Program  Magister  Manajemen
Universitas Brawijaya Malang. Hal. 67-84. Tedjakusuma, R., S. Hartini, dan Muryani. 2001.
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian air minu mineral   di   Kotamady Surabaya.
Jurnal Penelitian Dinamika Sosial 2(3): 48-
58.

Tarwotjo,   I.,   S.   Hartini S.   Soekirman dan Soekarno.   1971.   Komposis Tiga   Jenis Bakso. Akademi Gizi, Jakarta.

Sumber:
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:Qy07fb3PI-wJ:journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/download/600/426+&cd=2&hl=id&ct=clnk

Jumat, 09 Mei 2014

Politik dan Strategi Nasional

Pengertian Politik dan Strategi Nasional
Perkataan politik berasal dari bahasa Yunani, yaitu Polistaia, Polis berarti kesatuan masyarakat yang mengurus diri sendiri/berdiri sendiri (negara), sedangkan taia berarti urusan. Dari segi kepentingan penggunaan, kata politik mempunyai arti yang berbeda-beda. Untuk lebih memberikan pengertian arti politik disampaikan beberapa arti politik dari segi kepentingan penggunaan, yaitu:
Dalam arti kepentingan umum (politics)
Politik dalam arti kepentingan umum atau segala usaha untuk kepentingan umum, baik yang berada dibawah kekuasaan negara di Pusat maupun di Daerah, lazim disebut Politik (Politics) yang artinya adalah suatu rangkaian azas/prinsip keadaan serta jalan, cara dan alat yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau suatu keadaan yang kita kehendaki disertai dengan jalan, cara dan alat yang akan kita gunakan untuk mencapai keadaan yang kita inginkan.
Dalam arti kebijaksanaan (Policy)
Politik adalah penggunaan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang yang dianggap lebih menjamin terlaksananya suatu usaha, cita-cita/keinginan atau keadaan yang kita kehendaki. Dalam arti kebijaksanaan, titik beratnya adalah adanya :
proses pertimbangan
menjamin terlaksananya suatu usaha
pencapaian cita-cita/keinginan
Jadi politik adalah tindakan dari suatu kelompok individu mengenai suatu masalah dari masyarakat atau negara. Dengan demikian, politik membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan:
Negara
Adalah suatu organisasi dalam satu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang ditaati oleh rakyatnya. Dapat dikatakan negara merupakan bentuk masyarakat dan organisasi politik yang paling utama dalam suatu wilayah yang berdaulat.
Kekuasaan
Adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginannya. Yang perlu diperhatikan dalam kekuasaan adalah bagaimana cara memperoleh kekuasaan, bagaimana cara mempertahankan kekuasaan, dan bagaimana kekuasaan itu dijalankan.
Pengambilan keputusan
Politik adalah pengambilan keputusan melaui sarana umum, keputusan yang diambil menyangkut sektor publik dari suatu negara. Yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan politik adalah siapa pengambil keputusan itu dan untuk siapa keputusan itu dibuat.
Kebijakan umum
Adalah suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seseorang atau kelompok politik dalam memilih tujuan dan cara mencapai tujuan itu.
Distribusi
Adalah pembagian dan pengalokasian nilai-nilai (values) dalam masyarakat. Nilai adalah sesuatu yang diinginkan dan penting, nilai harus dibagi secara adil. Politik membicarakan bagaimana pembagian dan pengalokasian nilai-nilai secara mengikat.
Strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategia yang artinya the art of the general atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan.
Karl von Clausewitz berpendapat bahwa strategi adalah pengetahuan memenangkan kelanjutan dari politik.Dalam abad modern dan globalisasi, penggunaan kata strategi tidak lagi terbatas pada konsep atau seni seorang panglima dalam peperangan, tetapi sudah digunakan secara luas termasuk dalam ilmu ekonomi maupun olah raga. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau pencaipan suatu tujuan.
Politik nasional adalah suatu kebijakan umum dan pengambilan kebijakan untuk mencapai suatu cita-cita dan tujuan nasional.Strategi nasional adalah cara melaksanakan politik nasional dalam mencapai sasaran dan tujuan yang ditetapkan oleh politik nasional. Strategi nasional disusun untuk melaksanakan politik nasional, misalnya strategi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

Sumber:


Wawasan Nasional Indonesia

Wawasan nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan bentuk geografinya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam pelaksanannya, wawasan nusantara mengutamakan kesatuan wilayah dan menghargai kebhinekaan untuk mencapai tujuan nasional.

Falsafah pancasila
Nilai-nilai pancasila mendasari pengembangan wawasan nasional. Nilai-nilai tersebut adalah:
1.     Penerapan Hak Asasi Manusia (HAM), seperti memberi kesempatan menjalankan ibadah sesuai dengan agamamasing- masing.
2.     Mengutamakan kepentingan masyarakat daripada individu dan golongan.
3.     Pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat.

Aspek kewilayahan nusantara
Pengaruh geografi merupakan suatu fenomena yang perlu diperhitungkan, karena Indonesia kaya akan aneka Sumber Daya Alam (SDA) dan suku bangsa.

Aspek sosial budaya
Indonesia terdiri atas ratusan suku bangsa yang masing-masing memiliki adat istiadatbahasa, agama, dan kepercayaanyang berbeda - beda, sehingga tata kehidupan nasional yang berhubungan dengan interaksi antargolongan mengandung potensi konflik yang besar.mengenai berbagai macam ragam budaya.

Aspek sejarah
Indonesia diwarnai oleh pengalaman sejarah yang tidak menghendaki terulangnya perpecahan dalam lingkungan bangsa dan negara Indonesia. Hal ini dikarenakan kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia merupakan hasil dari semangat persatuan dan kesatuan yang sangat tinggi bangsa Indonesia sendiri. Jadi, semangat ini harus tetap dipertahankan untuk persatuan bangsa dan menjaga wilayah kesatuan Indonesia.

Fungsi
Gambaran dari isi Deklarasi Djuanda.
1.     Wawasan nusantara sebagai konsepsi ketahanan nasional, yaitu wawasan nusantara dijadikan konsep dalam pembangunan nasional, pertahanan keamanan, dan kewilayahan.
2.     Wawasan nusantara sebagai wawasan pembangunan mempunyai cakupan kesatuan politik, kesatuan ekonomi, kesatuan sosial dan ekonomi, kesatuan sosial dan politik, dan kesatuan pertahanan dan keamanan.
3.     Wawasan nusantara sebagai wawasan pertahanan dan keamanan negara merupakan pandangan geopolitik Indonesia dalam lingkup tanah air Indonesia sebagai satu kesatuan yang meliputi seluruh wilayah dan segenap kekuatan negara.
4.     Wawasan nusantara sebagai wawasan kewilayahan, sehingga berfungsi dalam pembatasan negara, agar tidak terjadi sengketa dengan negara tetangga. Batasan dan tantangan negara Republik Indonesia adalah:
·         Risalah sidang BPUPKI tanggal 29 Mei-1 Juni 1945 tentang negara Republik Indonesia dari beberapa pendapat para pejuang nasional. Dr. Soepomo menyatakan Indonesia meliputi batas Hindia BelandaMuh. Yamin menyatakan Indonesia meliputi SumateraJawaSunda Kecil, BorneoSelebesMaluku-AmbonSemenanjung MelayuTimorPapua,Ir. Soekarno menyatakan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
·         Ordonantie (UU Belanda) 1939, yaitu penentuan lebar laut sepanjang 3 mil laut dengan cara menarik garis pangkal berdasarkan garis air pasang surut atau countour pulau/darat. Ketentuan ini membuat Indonesia bukan sebagai negara kesatuan, karena pada setiap wilayah laut terdapat laut bebas yang berada di luar wilayah yurisdiksi nasional.
·         Deklarasi Juanda, 13 Desember 1957 merupakan pengumuman pemerintah RI tentang wilayah perairan negara RI, yang isinya:
1.     Cara penarikan batas laut wilayah tidak lagi berdasarkan garis pasang surut (low water line), tetapi pada sistem penarikan garis lurus (straight base line) yang diukur dari garis yang menghubungkan titik - titik ujung yang terluar dari pulau-pulau yang termasuk dalam wilayah RI.
2.     Penentuan wilayah lebar laut dari 3 mil laut menjadi 12 mil laut.
3.     Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sebagai rezim Hukum Internasional, di mana batasan nusantara 200 mil yang diukur dari garis pangkal wilayah laut Indonesia. Dengan adanya Deklarasi Juanda, secara yuridis formal, Indonesia menjadi utuh dan tidak terpecah lagi.
Tujuan
Tujuan wawasan nusantara terdiri dari dua, yaitu:
1.     Tujuan nasional, dapat dilihat dalam Pembukaan UUD 1945, dijelaskan bahwa tujuan kemerdekaan Indonesia adalah "untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial".
2.     Tujuan ke dalam adalah mewujudkan kesatuan segenap aspek kehidupan baik alamiah maupun sosial, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan bangsa Indonesia adalah menjunjung tinggi kepentingan nasional, serta kepentingan kawasan untuk menyelenggarakan dan membina kesejahteraan, kedamaian dan budi luhur serta martabat manusia di seluruh dunia.

Implementasi
Kehidupan politik
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan wawasan nusantara, yaitu:
1.     Pelaksanaan kehidupan politik yang diatur dalam undang-undang, seperti UU Partai Politik, UU Pemilihan Umum, dan UU Pemilihan Presiden. Pelaksanaan undang-undang tersebut harus sesuai hukum dan mementingkan persatuan bangsa.Contohnya seperti dalam pemilihan presiden, anggota DPR, dan kepala daerah harus menjalankan prinsip demokratis dan keadilan, sehingga tidak menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa.
2.     Pelaksanaan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia harus sesuai dengan hukum yang berlaku. Seluruh bangsa Indonesia harus mempunyai dasar hukum yang sama bagi setiap warga negara, tanpa pengecualian. Di Indonesia terdapat banyak produk hukum yang dapat diterbitkan oleh provinsi dan kabupatendalam bentuk peraturan daerah (perda) yang tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku secara nasional.
3.     Mengembangkan sikap hak asasi manusia dan sikap pluralisme untuk mempersatukan berbagai suku, agama, dan bahasa yamg berbeda, sehingga menumbuhkan sikap toleransi.
4.     Memperkuat komitmen politik terhadap partai politik dan lembaga pemerintahan untuk meningkatkan semangat kebangsaan, persatuan dan kesatuan.
5.     Meningkatkan peran Indonesia dalam kancah internasional dan memperkuat korps diplomatik sebagai upaya penjagaan wilayah Indonesia terutama pulau-pulau terluar dan pulau kosong.

Kehidupan ekonomi
1.     Wilayah nusantara mempunyai potensi ekonomi yang tinggi, seperti posisi khatulistiwa, wilayah laut yang luas, hutan tropis yang besar, hasil tambang dan minyak yang besar, serta memeliki penduduk dalam jumlah cukup besar. Oleh karena itu, implementasi dalam kehidupan ekonomi harus berorientasi pada sektor pemerintahan, pertanian, danperindustrian.
2.     Pembangunan ekonomi harus memperhatikan keadilan dan keseimbangan antar daerah. Oleh sebab itu, dengan adanya otonomi daerah dapat menciptakan upaya dalam keadilan ekonomi.
3.     Pembangunan ekonomi harus melibatkan partisipasi rakyat, seperti dengan memberikan fasilitas kredit mikro dalam pengembangan usaha kecil.

Kehidupan sosial
Tari pendet dari Bali merupakan budaya Indonesia yang harus dilestarikan sebagai implementasi dalam kehidupan sosial.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial, yaitu :
1.     Mengembangkan kehidupan bangsa yang serasi antara masyarakat yang berbeda, dari segi budayastatus sosial, maupun daerah. Contohnya dengan pemerataan pendidikan di semua daerah dan program wajib belajar harus diprioritaskan bagi daerah tertinggal.
2.     Pengembangan budaya Indonesia, untuk melestarikan kekayaan Indonesia, serta dapat dijadikan kegiatan pariwisata yang memberikan sumber pendapatan nasional maupun daerah. Contohnya dengan pelestarian budaya, pengembangan museum, dan cagar budaya.




Kehidupan pertahanan dan keamanan
Membagun TNI Profesional merupakan implementasi dalam kehidupan pertahanan keamanan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan pertahanan dan keamanan, yaitu :
1.     Kegiatan pembangunan pertahanan dan keamanan harus memberikan kesempatan kepada setiap warga negara untuk berperan aktif, karena kegiatan tersebut merupakan kewajiban setiap warga negara, seperti memelihara lingkungan tempat tinggal, meningkatkan kemampuan disiplin, melaporkan hal-hal yang mengganggu keamanan kepada aparat dan belajar kemiliteran.
2.     Membangun rasa persatuan, sehingga ancaman suatu daerah atau pulau juga menjadi ancaman bagi daerah lain. Rasa persatuan ini dapat diciptakan dengan membangun solidaritas dan hubungan erat antara warga negara yang berbeda daerah dengan kekuatan keamanan.
3.     Membangun TNI yang profesional serta menyediakan sarana dan prasarana yang memadai bagi kegiatan pengamanan wilayah Indonesia, terutama pulau dan wilayah terluar Indonesia.


 Sumber
1.      ^ a b Suradinata,Ermaya. (2005). Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi dalam Kerangka Keutuhan NKRI.. Jakarta: Suara Bebas. Hal 12-14.
2.      ^ a b c d e f Sunardi, R.M. (2004). Pembinaan Ketahanan Bangsa dalam Rangka Memperkokoh Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta:Kuaternita Adidarma. ISBN 979-98241-0-9,9789799824103.Hal 179-180.
3.      ^ a b c d Alfandi, Widoyo. (2002). Reformasi Indonesia: Bahasan dari Sudut Pandang Geografi Politik dan Geopolitik. Yogyakarta:Gadjah Mada University. ISBN 979-420-516-8, 9789794205167.
4.      ^ Hidayat, I. Mardiyono, Hidayat I.(1983). Geopolitik, Teori dan Strategi Politik dalam Hubungannya dengan Manusia, Ruang dan Sumber Daya Alam. Surabaya:Usaha Nasional.Hal 85-86.
5.      ^ a b c Sumarsono, S, et.al. (2001). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal 12-17.
6.      http://id.wikipedia.org/wiki/Wawasan_Nusantara


Kamis, 10 April 2014

Warga Negara yang Baik Hidup dengan Berdemokrasi

11.      Apa sih demokrasi itu ?
Demokrasi itu adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memilika hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi baik dalam perumusan, pengembangan dan pembuatan hukum.

22.      Siapa saja yang terlibat dalam demokrasi ?
(Demokrasi) yang artinya kekuasaan ada di tangan rakyat, ya jadi yang terlibat dalam demokrasi adalah rakyat pada suatu negara dan tinggal rakyat yang  menentukan siapa yang ditunjuk atau dipercaya untuk mengelola suatu negara demi mensejahterakan rakyatnya.

33.      Kapan waktu berdemokrasi ?
Tak ada batasan waktu untuk berdemokrasi, selama kita hidup sebagai warga negara kita wajib berdemokrasi sesuai dengan aturan yang ada di setiap negara.

44.      Dimana tempat untuk berdemokrasi ?
Dan lagi-lagi tak ada batasan tempat untuk demokrasi, kita bisa melakukan demokrasi dimana saja asalkan tidak melanggar peraturan yang ada.

55.      Mengapa kita perlu berdemokrasi ?
Karena demokrasi itu merupakan apa yang diinginkan oleh rakyat, maka kita sebagai rakyat harus turut ikut serta dalam demokrasi saling bekerjasama antara pemerintah dan rakyat karena orang-orang yang ada di dalam pemerintahan itu adalah rakyat juga yang ditunjuk dan dipercaya untuk melaksanakan apa yang diinginkan oleh rakyat.



66.      Bagaimana caranya kita berdemokrasi ?

Mulai lah dari hal yang kecil, seperti bersifat jujur, adil, bahu membahu dan mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan masalah di dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung anda telah  melakukan demokrasi walaupun hal tersebut sepele tapi dampkanya akan luar biasa di kemudian hari.

Contoh ke - 2

Penulisan ini dilakukan pada tanggal 9 april 2014 bertepatan dengan pemilu, pada hari ini penulis mendapat kesempatan untuk memilih wakil rakyat untuk yang pertama kalinya karena pada 5 tahun yang lalu penulis menganggap bahwa demokrasi itu tidak penting, anggapan penulis pada waktu itu demokrasi hanyalah pesta menghabiskan uang rakyat.

Tapi pada pemilu 9 april 2014 penulis menggunakan hak suaranya untuk memilih wakil rakyat dengan cara ini maka kita sebagai warga negara telah melakukan demokrasi dan demokrasi itu penting walaupun dalam perjalanannya tidak berjalan mulus tapi tetap kita sebagai warga negara wajib melakukan demokrasi untuk kemajuan negeri tercinta.