Minggu, 26 April 2015

10 Fakta Tentang Manfaat Berolahraga

1. Berolahraga akan Meningkatkan Kapasitas Otak Anda
“Berolahraga meningkatkan energi dan menambah serotonin dalam otak”, begitu kata David Atkinson, direktur dari Cooper Venture Development Program, salah satu divisi dari Cooper Aerobic Center di Dallas, Amerika Serikat. Serotonin adalah hormon di otak yang berfungsi sebagai modulator kapasitas kerja otak yang mencakup pengatur stabilitas emosi, pemahaman dan nafsu makan. Jadi orang yang melakukan olahraga dengan jumlah cukup akan menemukanproduktivitas mereka meningkat. Produktivitas seseorang tidak hanya berarti orang tersebut dapat memberikan kualitas kerja yang baik, namun ia juga dapat memberikan kontribusi untuk suasana kerja yang bahagia di tempat kerja.
2. Menggerakkan Tubuh Membantu Mencairkan Stres Anda
Berolahraga memberikan efek relaksasi yang baik untuk semua orang. Itu sebabnya ketika seseorang mulai berlatih, dia akan segera mengetahui bahwa hal itu akan mengurangi stres dan membuatnya menjadi pribadi yang lebih bahagia. Atkinson mengatakan bahwa ketika seseorang bahagia, efeknya tidak hanya menguntungkan orang itu sendiri. Kondisi ini menyebabkan orang tersebut menjadi tidak mudah marah, dengan demikian, meningkatkan kualitas hubungan dengan rekan-rekan kerjanya, keluarga dan orang lain.
3. Berolahraga akan Memberikan Energi
Berolahraga, meskipun hanya 30 menit sehari, dapat mengubah hari seseorang dari pagi sampai malam hari. Ketika endorphin dilepaskan ke dalam darah selama berolahraga, seseorang akan merasa lebih energik sepanjang hari. Endorphin adalah senyawa kimia dalam otak kita yang dapat membuat otak menjadi rileks.
Atkinson pernah mendapat keluhan dari kliennya yang mengatakan bahwa ia merasa lelah setelah berlatih. Atkinson menjelaskan bahwa kelelahan biasanya terjadi pada beberapa sesi pertama pasca berolahraga karena tubuh tidak terbiasa. Setelah itu, kelelahan akan hilang dengan sendirinya.
4. Tidak Sulit Mencari Waktu Untuk Berolahraga

Banyak orang berpikir bahwa mereka tidak punya waktu untuk berolahraga. Kemudian, tidak memiliki peralatan tertentu seperti sepasang sepatu olahraga menjadi penghalang. Sebenarnya, Atkinson menyatakan, berolahraga bisa dimulai dari pemikiran sederhana, “Berpikir bahwa kita membunuh dua burung dengan satu batu.” Itu berarti anda benar-benar melakukan dua hal atau mendapatkan dua keuntungan dengan melakukan satu kegiatan.
Anda bisa memulai dengan meminta anak-anak anda untuk bermain dengan sepeda mereka di taman. Anda bisa melihatnya sekaligus berolahraga pada saat yang bersamaan. Jika suatu hari anda perlu melakukan pertemuan dengan seseorang, anda bisa memilih tempat yang memiliki jogging track, taman, kolam renang atau fasilitas lain yang dapat digunakan untuk berolahraga. Anda bahkan dapat berolahraga saat melakukan tugas-tugas rumah. Yang penting adalah menggerakkan tubuh anda.
5. Berolahraga akan Membina Hubungan
Berolahraga meningkatkan hubungan anda dengan orang lain. Jika hal itu dilakukan bersama keluarga, anda akan merasakan lebih dekat dengan mereka. Hal ini juga berlaku jika anda berolahraga bersama dengan teman-teman anda. Selain itu, sangat mungkin bahwa anda mendapatkan teman-teman baru melalui berolahraga. Selain itu, orang-orang yang mencoba untuk mengurangi berat badannya, benar-benar membutuhkan dukungan dari teman-teman agar usahanya tersebut berhasil.
6. Berolahraga akan Melawan Penyakit
Penelitian menunjukkan bahwa berolahraga dapat memperlambat dan mencegah penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, osteoporosis dan banyak penyakit lainnya. Berolahraga bahkan bisa memperlambat proses penuaan dan juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dengan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih baik, setidaknya anda bisa mengurangi kemungkinan terkena penyakit flu dan penyakit umum lainnya.
7. Berolahraga akan Memompa Jantung Anda Lebih Baik
Berolahraga membuat jantung anda kuat. Fungsi jantung dan sistem kardiovaskular bekerja lebih efektif, dan ini dapat mengurangi plak dalam pembuluh darah (yang dapat mempersempit aliran darah), sehingga jantung akan memompa darah lebih baik. “Jika jantung anda menjadi lebih kuat, masing-masing pompa akan memberikan sejumlah besar darah dan ini dapat memperlambat detak jantung anda,” kata Todd A. Astorino dari California State University-San Marcos.
8. Berolahraga akan Memperbaiki Diet Anda
Otot membakar lebih banyak kalori daripada lemak tubuh ketika anda sedang beristirahat. Dengan demikian, semakin banyak otot yang kita miliki, semakin baik metabolisme yang kita alami. Tentu pembakaran kalori tidak hanya terjadi ketika anda berada dalam kondisi beristirahat, tetapi ketika berolahraga juga. Dengan tingkat metabolisme yang baik, seseorang dapat memiliki pola makan yang sehat. Selama tidak terlalu berlebihan, setiap makanan favorit dapat dikonsumsi.
9. Berolahraga Meningkatkan Stamina Anda
Setelah dilakukan selama beberapa minggu secara konsisten, seseorang dapat merasakan perbedaan dalam tubuhnya. Otot-otot telah dikembangkan dan perkembangan ini dapat dirasakan ketika ia melakukan tenis, golf, bola basket atau olahraga lain yang membutuhkan kekuatan otot. Pada saat itu penambahan kekuatan yang berasal dari otot-otot bisa dirasakan, kata Atkinson.
Selain itu, otot-otot akan dapat bekerja lebih efisien, lebih cepat bereaksi dan daya tahannya juga akan meningkat.


10. Penurunan Berat Badan Bukan Tujuan Utama
Berolahraga memang menurukan beberapa kilo dari tubuh anda, namun manfaat dari berolahraga tidak hanya untuk mencegah kelebihan berat badan. Menggunakan olahraga hanya sebagai alat untuk menurunkan berat badan tidak akan menjadi motivator yang kuat bagi seseorang untuk berhasil. Hal ini terjadi karena orang biasanya tidak sabar dan ingin melihat hasilnya dalam sekejap. Penurunan berat badan melalui olahraga tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Itulah mengapa motivasi dalam berolahraga tidak disarankan padapenurunan berat badan. Ada banyak tujuan yang lebih menggairahkan seperti merasakan hidup yang lebih baik, memiliki lebih banyak energi, mengurangi stres dll. Oleh karena itu, luangkan waktu untuk berolahraga tidak peduli seberapa sibuknya anda. Ingat pepatah : “Dalam tubuh yang sehat hidup jiwa yang kuat”.

Eksposisi
Apakah anda ingin menjadi lebih cerdas di kantor anda? bebas dari kepenatan rumah ? Mampu meluangkan waktu yang berkualitas dengan keluarga anda ? Semua keinginan tersebut dapat dipenuhi melalui berolahraga, itulah yang para ahli katakan tentang manfaat berolahraga, dengan berolahraga anda mendapatkan manfaat secara fisik dan psikologis

Minggu, 29 Maret 2015

Nama : Rivansyah Wirahadiutama
NPM : 16212496
Kelas : 3EA13

Fakta sebagai Unsur dari Penalaran Ilmiah
Dalam penalaran ilmiah dibutuhkan berbagai unsur yang dapat dibuktikan atau yang telah diverifikasi sesuai dengan bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera, bila dikumpulkan secara sistematis dan dilakukan secara sekuensial maka dapat melahirkan sebuah ilmu. Dengan begitu, kita dapat mengenali hubungan di antara fakta-fakta tersebut dengan melakukan penelitian selain itu kita dapat menggolongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah angota yang sama banyaknya, namun pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi.
1. Klasifikasi
Menghubungkan sejumlah fakta dengan suatu hubungan yang logis berdasarkan sistem.

2. Jenis klasifikasi
Klasifikasi sederhana, klasifikasi yang hanya memiliki dua kelas bawahan yang berciri positif dan negatif.
Klasifikasi kompleks, suatu klasifikasi yang memiliki lebih dari dua kelas bawahan

3. Persyaratan klasifikasi

Agar dapat mendapatkan kesimpulan yang sah tenteang sifat golongan tertentu yang berdasarkan satu atau beberap yang diamati diperlukan :

1. Generalisasi dan spesifikasi
2. Analogi
3. Hubungan sebab akibat

Sumber: www.zuwaily.blogspot.com

Rabu, 07 Januari 2015

EMPLOYEE MOTIVATION AS IT RELATES TO EFFECTIVENESS, EFFICIENCY, PRODUCTIVITY, AND PERFORMANCE

Allied Academies International Conference page 139
Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2 Maui, 2004
EMPLOYEE MOTIVATION AS IT RELATES TO
EFFECTIVENESS, EFFICIENCY, PRODUCTIVITY,
AND PERFORMANCE
Rob H. Kamery, Nova Southeastern University
robhkamery@yahoo.com
ABSTRACT
Employees may be motivated on the job by many things, such as a sense of achievement,
recognition, enjoyment of the job, promotion opportunities, responsibility, and the chance for
personal growth. Employee motivation and performance are tied directly to the style of
management that is applied and to principles of positive or negative reinforcement. This paper
discusses motivation as it relates to effectiveness, efficiency, productivity, and performance.
INTRODUCTION
Motivation can be induced by the employer or reside within the employee. Employees have
higher levels of motivation when they perceive that management cares about their welfare, when
they are involved in the management process, and when the management-labor environment is
positive. Control stifles motivation while involvement creates a more productive environment. If
the workers feel they are being treated fairly and with respect, this attitude will develop and guide
their behavior in a positive direction. To be motivated, they must be excited about and interested
in their jobs. Activities that can gain interest on the part of workers include employee participation
committees, task force efforts, training programs, opportunities for outside education, newsletters,
contests, and congratulatory messages from management (Kennish, 1998).
EMPLOYEE/MANAGER RELATIONSHIP
The key to motivating employees is remembering that not all employees are the same.
Something different makes each employee tick. In order to achieve motivation, managers must
know each employee. Managers must have a wide range of motivational techniques available. Each
employee has a different set of values and personal experiences that brought them to where they are
today. Employees are motivated by learning and should likewise be motivated to learn. Workers
should be offered regular opportunities to attend conferences in their field, seminars, or in-house
training programs (Buhler, 1998).
A supervisor can provide the environment in which employees are willing to motivate
themselves. The purpose of a motivating environment is to encourage every member of an
organization to motivate himself to contribute his best effort to the job at all times. A motivating
environment is not a permissive environment, but one where the expectations of each employee are
for their best work within their capability. A motivating environment is not necessarily one in which
page 140 Allied Academies International Conference
Maui, 2004 Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2
all employees are happy all of the time. A motivating environment may produce satisfied
employees, which in turn may make many employees happy. A motivating environment exists with
conditions of high standards, clear objectives, adequate training, effective leadership, rewards that
employees value, and adequate working conditions (Capozzoli, 1998).
The standards to which people are expected to produce should be high, but not so high that
they can never reach them. People will produce to the level of expectation as long as it is not
excessively high. When a manager delegates work to an employee, he or she should be sure the
employee understands all of the standards of the assignment. Every employee wants and needs to
know what is expected. This goes along with the standards that have been set. They must have
adequate training to be able to do the tasks that they are assigned. Employees may get angry and
frustrated if they do not know how to do the job. They want and need to be able to trust their leaders
and know that what the leader tells them is true. It is important for supervisors to have integrity and
to earn the trust of their employees. When an employee does a good job, the supervisor can reward
that employee with something that is valuable to them. If it is expected for the employees to do a
good job, then they must have adequate working conditions. Poor lighting, too much noise, or
uncomfortable temperatures make it difficult for employees to produce both quality and quantity
(Capozzoli, 1998).
TRUE MOTIVATORS
When considering motivators, longevity and effectiveness are important. Motivators such
as fear or incentives have effects that can be counterproductive or short-lived. Thus, the use of
internal motivational factors needs to be considered (Helminger, 1997). "Beecher once said, 'God
made man to go by motives, and he will not go without them any more than a boat without steam,
or a balloon without gas. Find out what motivates man, touch that button to turn the key that makes
men achieve'" (Helminger, 1997).
This idea leads to the debate over where change should occur in terms of employee
motivation. Simply changing the individual usually takes too much time and effort and does not
reap the benefit of helping other employees as much as a company-wide change. However,
managers are primarily interested in how to motivate individuals on the job. Their main focus
should be designing jobs that meet the demands of the organization as well as the skills and abilities
of their employees. Employees are empowered and motivated when they assume additional
planning and evaluating responsibilities through job enrichment. In turn, this enrichment will
benefit the company because they have employees who are better prepared to deal with everyday
situations.
Managers can increase employee motivation by seeking employees' input on daily decisions.
The ability to make good decisions should not be the sole responsibility of the managers, but a
concerted effort by individuals with the best knowledge of the situation. When employees are
encouraged to make their own decisions, managers should not micromanage, but allow employees
to learn from their mistakes and learn to tolerate some learning errors. Other motivators that can
be implemented by management include providing social interaction and teamwork, implementing
goals and challenges, and instituting employee appreciation programs (Zimmer, 1998).
Allied Academies International Conference page 141
Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2 Maui, 2004
Some examples of motivators used by various organizations include educational assistance
programs, stock options, and savings plan benefits. All of these represent long-term programs that
are specifically designed to increase worker satisfaction and effectiveness. It is the policy of many
organizations to encourage employees to take college-level courses to increase effectiveness in their
present positions or prepare them for increased or new responsibilities. Many organizations will
reimburse 100 percent of the cost of tuition, books, entrance exam fees, and lab fees for courses
toward a job-related bachelor's degree and/or a master's degree. Many will also reimburse these
costs for non-degree courses if the material covered is job-related. The corporate standard is that
reimbursement is contingent upon the satisfactory completion of the course with a grade of "C" or
better.
In terms of stock options and savings plans for employees, some organizations require that
employees be 21 years of age or older and have at least 1,000 hours of service in order to be eligible.
Once these requirements are met, the employee is eligible to participate in the employee retirement
savings and stock plans. The savings plan allows employees to defer up to a certain percent of their
annual salary, and the organization matches the first few percentage points of deferral and
contributes 50 percent of the next one percent of deferral to each participant's account. Employees
become 100 percent vested in the company-matching portion of their account after five years of
service. In addition, the board of directors makes an annual contribution (based on the results of
operations) in the form of company stock to the plan.
MOTIVATIONAL JOB DESIGN
In order to be effective, management should be concerned with motivating individuals on
the job. Therefore, managers should seek different methods of designing motivating jobs. Job
design should incorporate environmental dynamics, the organization's resources, and individual
preference. Job enlargement, job enrichment, and the job characteristics model are three methods
that can be used in the process of designing motivating jobs (Robbins & Coulter, 1996).
Job enlargement is a type of horizontal expansion designed to overcome the narrow focus
of highly specialized jobs. It involves the concept of knowledge enlargement--enrichment of the
individual through increased job knowledge/training. Some examples of the results of enrichment
include increased worker satisfaction, enhanced customer service, and increased accuracy. In
contrast, job enrichment is a vertical expansion that provides for increased worker responsibility
(i.e., planning and evaluating duties). Greater responsibility increases job depth (worker control)
and results in employee empowerment. This empowerment often leads to a higher quality of output
and employee motivation since workers feel connected to their jobs. The job characteristics model
is a method of job analysis and design which identifies five job characteristics: 1) skill variety
(range of skill/talent), 2) task identity (worker-task connection), 3) task significance (degree of
impact), 4) autonomy (worker freedom/independence), and 5) feedback (worker
critique/performance evaluation).
The above characteristics measure the intrinsic rewards derived by workers via increased
knowledge and performance review--such rewards have led to greater motivation, performance, and
satisfaction while decreasing employee absenteeism and turnover rates. According to the job
characteristics model, managers should: 1) combine tasks to increase skill and task identification,
page 142 Allied Academies International Conference
Maui, 2004 Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2
2) create natural work units to encourage worker-task identification, 3) establish client relationships
to increase variety, obtain valuable feedback, and increase worker autonomy, 4) expand jobs
vertically via job enrichment, and 5) open feedback channels via employee performance reviews
(Robbins & Coulter, 1996).
Employers and managers must also realize that sometimes it becomes necessary to take a
break from the job. This helps to reduce stress that can build up in a person who is faced with a high
degree of job enlargement. Friendships can also be made during these periods of relaxation. This
is possible through company gatherings and/or parties. Many organizations sponsor company
picnics at recreational facilities for employees and their families. These facilities are rented at the
company's expense and lunch is often catered. Activities such as door prizes, bingo, face painting,
etc. are offered (also at the company's expense). In addition, many organizations sponsor a
Christmas party for employees and their spouses/dates. This event is also usually catered and
entertainment is provided at the company's expense. Most organizations appreciate the work
endeavors of their employees and wish to convey thanks via social gatherings such as these. Most
organizations believe that it is important to promote healthy work relationships, and these events
place employees face-to-face with individuals they might not encounter during a normal workday
(i.e., executive management, manufacturing personnel, second/third shift employees).
MOTIVATIONAL THEORIES
Because each organization has a distinct personality, managers should try and remove
barriers from their organization that cause job dissatisfaction and are a detriment to motivating
employees. Factors such as company politics, unproductive meetings, withholding information, and
unfairness lead to low morale and overall job dissatisfaction (Robbins & Coulter, 1996).
Another theory related to employee motivation is the equity theory. This theory suggests
that individuals compare their performance and compensation against their co-workers' performance
and compensation and act to correct any inequities. For example, two workers are paid an hourly
rate for the same task; however, worker A is paid more per hour than worker B. Thus, worker B may
act to correct this inequity or just continue to perform below his or her potential. Similarly, worker
A will increase his work efforts given his or her elevated level of compensation (Robbins & Coulter,
1996).
Recent studies have expanded the concept of employee motivation beyond job design and
identified issues such as motivating a diverse workforce, pay-for-performance programs, and
employee stock ownership plans (ESOPs) (Robbins & Coulter, 1996). Researchers suggest that
management exercise flexibility when confronting a diverse workforce. For example, different
groups of workers have different needs. A single mother may need daycare or a second job and
therefore require specific motivators. Research also suggests that tailoring rewards to the individual
worker can be a highly motivational tool. A few such tailored rewards in use today include
compressed workweeks (four 10-hour days), flextime (set number of hours, with flexible
scheduling), job sharing, and telecommuting (Robbins & Coulter, 1996).
Pay-for-performance plans are designed to link specific performance goals with employee
compensation. Since most individuals work to obtain the amount of money required to meet their
needs and wants, these types of plans can be highly motivating since they positively relate the
Allied Academies International Conference page 143
Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2 Maui, 2004
amount of pay with the amount of work effort. Pay-for-performance programs compensate
employees based on some pre-determined performance measurement (objective). Examples include
piece-rate pay plans, wage incentive plans, profit sharing, and bonus plans.
Performance measurements may include individual or team goals, departmental objectives,
or overall organizational profit. The basis for such programs is that by making a portion of an
employee's compensation contingent on some specific performance objective, he or she will be more
focused and devote more effort toward attaining that objective (Robbins & Coulter, 1996).
Some organizations have management incentive programs under which managers and
executive managers pledge to meet certain MBOs by year-end. At the end of the period, their
performance is measured against these MBOs and compensation is granted according to the
organization's results of operations for the year. These programs work well for management;
however, as only a targeted group of employees are allowed to participate, the overall success is
debatable.
Yet another type of specific reward program is The Idea Program (TIP). In this program,
employees are encouraged to submit cost savings ideas, and an appointed TIP committee researches
every idea to determine the cost savings, if any, that are applicable. The idea program awards are
granted on a quarterly basis, and the amount (up to a certain dollar amount) is based on the projected
cost savings. Employees should be recognized at the state-of-the-company meeting and in the
company newsletter. They also might receive a plaque for their idea.
CONCLUSION
There are many factors that play into the concept of employee motivation. The first
necessary step is to determine what motivational tools will actually be effective in each particular
situation. Some tools may work for some companies, but not for others and vice versa. It is
important to note that the decisions dealing with motivation are based upon several theories.
No single theory seems best suited for every situation; therefore, theories are often combined
to provide the best possible combination to motivate employees. Although no single theory works
all the time, there is an underlying theme to all of the theories that respect and participation are two
key items that employees tend to appreciate. Oftentimes, the existence or nonexistence of these two
factors can determine how productive an employee will or will not be. It is important to note that
these two factors are almost always more important than monetary compensation. Of course, there
are some individuals for whom this generalization will not apply. Also, many of the motivational
theories that have been developed are used in industry today. However, they have been modified
to meet specific needs of the particular company.
REFERENCES
Buhler, P. (1998). Motivating the employee of the 90s. New York: Irwin Publishers, 8-11.
Capozzoli, T.K. (1998). Creating a motivating environment for employees. New York: McGraw-Hill Inc., 16.
Helminger, W. (1997). Human resources. Retrieved August 12, 1998, from http://www.cratus. comlresources/html
page 144 Allied Academies International Conference
Maui, 2004 Proceedings of the Academy of Legal, Ethical and Regulatory Issues, Volume 8, Number 2
Kennish, J.W. (1998). Motivating with a positive participatory policy. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc., 22-24.
Robbins, S.P. & M. Coulter (1996). Management (Fifth Edition). Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc.

Zimmer, E. (1998). The entrepreneur network. Retrieved August 12, 1998, from http://www.tenonhne.org/art/9611.html

Minggu, 16 November 2014

Kau adalah Inspirasiku

Kau adalah Inspirasiku
Kau bagaikan sang surya
Menerangiku dalam kegelapan
Kau bagaikan kompas mata
Menunjukan jalan ke depan

            Bila melakukan kesalahan
            Kau ingatkan ku selalu
            Bila melakukan kebaikan
            Kau dukungku selalu

Wahai tuhan
Sayangilah mereka
Wahai tuhan
Lindungilah mereka


I love you ayah, I love you bunda

Senin, 20 Oktober 2014

Review Perilaku Pembelian Konsumen Bakso Di Malang

Perilaku Konsumen Dalam Pembelian Bakso Di Malang
Kota Malang juga dikenal sebagai kota Bakso selain kota Apel. Bakso merupakan makanan daging sapi yang dicampur dengan terigu yang dimasak dengan proses tertentu untuk dikonsumsi. Bakso sangat populer dan digemari semua kalangan dengan harga yang bervariasi dan terjangkau oleh konsumen. Tarwotjo et al. (1971) menjelaskan bahwa bakso daging sapi merupakan sumber protein hewani karena daging sapi mengandung protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Usaha bakso membutuhkan tenaga kerja mulai dari lokasi penggilingan, sampai daerah produsen dan pemasaran. Bakso dibuat menggunakan daging segar agar dihasilkan bakso yang kenyal dan kompak. Bahan baku bakso umumnya berasal dari daging paha belakang sapi, akan tetapi dapat juga dibuat dari bagian karkas lainnya.
Dua faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen dalam melakukan pembelian yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Asseal, 1992). Faktor eksternal terdiri dari faktor lingkungan dan strategi bauran pemasaran. Faktor lingkungan terdiri dari faktor budaya, referensi dan kelas sosial. Strategi bauran pemasaran terdiri dari produk, harga, promosi, dan distribusi.
Faktor internal terdiri dari faktor gagasan dan karakteristik konsumen. Faktor internal dan eksternal dalam interaksinya dapat mempengaruhi perilaku konsumen baik secara individual maupun secara bersama-sama.
Konsumen melakukan pembelian tidak terlepas dari karakteristik produk baik mengenai penampilan, gaya, mutu dan harga dari produk tersebut. Penetapan harga oleh penjual akan berpengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen, sebab harga yang dapat dijangkau oleh konsumen akan cenderung membuat konsumen melakukan pembelian terhadap produk tersebut. Karakteristik penjualan bakso akan mempengaruhi keputusan membeli. Konsumen akan menilai mengenai penjual, baik mengenai pelayanan, mudahnya memperoleh produk dan sikap ramah dari penjual (Tedjakusuma et al., 2001).
Hasil dan Pembahasan

Gambaran umum responden
Hasil survei menunjukkan bahwa usia konsumen yang mendominasi adalah kelompok usia 16–25 tahun sebanyak 62,5% dan usia 26–35 tahun sebanyak 25,83% (Tabel 1). Kelompok usia ini tergolong usia produktif sehingga memerlukan kandungan nutrisi yang cukup bagi tubuh dan perlunya menjaga kesehatan. Konsumen pada usia muda (remaja) dipengaruhi oleh aktifitas yang ditekuninya, teman-teman, dan penampilan dari generasi tersebut. Usia responden diatas 45 tahun lebih sedikit dikarenakan pada usia ini seseorang lebih berhati-hati dalam memilih dan mengkonsumsi makanan yaitu lebih memilih makanan yang terbuat dari sayur-mayur (Kasali, 1998 cit. Hermanianto dan Andayani, 2002).
Usia (tahun) (age (years))                                       Persentase (percentage)
16 – 25                                                                   62,50
26 – 35                                                                    25,83
36 – 45                                                                    9,17                                         TABEL 1
46 – 55                                                                    1,67
56 – 65                                                                    0,83
Jumlah (total)                                                                          100,00
Hasil survei menunjukkan (Tabel 2) bahwa responden perempuan (53,33%) lebih banyak dijumpai dibanding laki-laki (46,67%) karena perempuan mempunyai kecenderungan senang berkumpul dan sering secara bersama-sama membeli atau jajan bakso dengan tidak direncanakan. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Hermanianto dan Andayani (2002) yang menjelaskan bahwa pembeli bakso lebih didominasi kaum perempuan karena perempuan mempunyai kecenderungan lebih senang berbelanja, mudah terpengaruh oleh emosi dan menyukai jajan atau ngemil. Alasan ini yang melatarbelakangi wanita sebagai konsumen terbesar bakso sapi.
Jenis kelamin (sex)                     Persentase (percentage)
Laki-laki                                   (male) 46,67
Perempuan                                (female) 53,33                                       TABEL 2
Jumlah                                      (total) 100,00

Materi dan Metode

Penelitian dilakukan dengan metode survei di Kota Malang dengan pertimbangan bahwa Kota Malang dikenal sebagai Kota Bakso.

Kelompok sasaran berdasarkan pendidikan yang ditempuh konsumen menunjukkan bahwa sebanyak 44,17% responden memiliki pendidikan akhir SMU dan 39,17% responden memiliki pendidikan akhir sarjana (Tabel 3)

Pendidikan (education)               Persentase(percentage)
SD/Sederajat (elementary school)             0,83
SMP/Sederajat (junior high school)          5,83
SMU/Sederajat (senior high school)         44,17                                        TABEL 3
Akademi/Sederajat (academy)                  10,00
Sarjana (under/graduate school)               39,17
Jumlah (total)                                        100,00

Data berdasarkan alasan konsumen membeli bakso menunjukkan bahwa mayoritas konsumen mengkonsumsi bakso karena bukan sebagai makanan utama (3,33%) tetapi sebagai kuliner, hobi,
makanan camilan (Tabel 4).
Alasan mengkonsumsi bakso (reason consuming meatballs)            Persentase (percentage)
Makanan utama (the main food)                                                               3,33
Makanan camilan (snack foods)                                                                31,67
Hobi (hobby)                                                                                         31,67
Kuliner (culinary)                                                                                  33,33
Jumlah (total)                                                                                        100,00
TABEL 4


Hasil survei menunjukkan bahwa harga satu porsi bakso tersebut adalah sedang (Tabel 5) atau cukup yang berarti tidak terlalu mahal ataupun tidak terlalu murah, sedangkan bakso tersebut dianggap konsumen bukan sebagai makanan utama.

Harga (price)                             Persentase(percentage)
Sangat mahal (very expensive)                  3,33
Mahal (expensive)                                   13,33
Sedang (medium)                                   57,50               
Murah (cheap)                                       19,17
Sangat murah (very cheap)                      6,67
Jumlah (total)                                        100,00

TABEL 5

Tingkat penghasilan responden sangat berpengaruh terhadap pembelian produk bakso. Penghasilan yang lebih akan mempengaruhi kemudahan responden untuk membeli produk tersebut. Hal ini diperkuat dengan data responden yang memiliki penghasilan Rp. 1.000.000,00 – Rp. 2.000.000,00 sebanyak 52,50% (Tabel 6) akan membeli produk tersebut lebih mudah karena menganggap produk tersebut memiliki harga yang relatif terjangkau.

Pendapatan (Rp) (income (Rp))    Persentase(percentage)
< 500.000                                  21,67
500.000 – 1.000.000                   13,33
1.000.001 – 1.500.000                28,33               
1.500.001 – 2.000.000                24,17
> 2.000.000                               12,50
Jumlah (total)                            100,00

TABEL 6

Tabel 7 memperlihatkan bahwa faktor-faktor yang terbentuk merupakan faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam pembelian bakso di Malang sebesar 63,76% dan sisanya sebesar 37,14% merupakan faktor-faktor yang tidak terlalu dipertimbangkan oleh konsumen. Untuk lebih jelasnya akan dibahas interpretasi tiap faktor dari kedelapan faktor yang terbentuk (Tabel 7).
 


 Kesimpulan

-          Pada tabel 1 pembeli bakso malang terbanyak adalah perempuan umur 16-25 berstatus pelajar yang dipengaruhi oleh faktor umur yang masih produktif dan memiliki waktu luang yang  cukup untuk melakukan aktifitas bersama teman-teman. Sedangkan pada umur 45 tahun keatas mereka lebih memilih menu makanan demi menjaga kesehatan.

-          Pada tabel 2 pembeli terbanyak adalah responden perempuan, hal ini disebabkan perempuan itu senang ngemil, berbelanja.

-          Pada tabel 3 status pendidikan cukup berpengaruh karena mempunyai pengetahuan yang lebih tentang kuliner

-          Pada tabel 4 menurut responden mereka membeli baso itu adalah kuliner, cemilan dan bukan makanan utama, ada juga konsumen yang membeli baso karena memang hobi

-          Pada tabel 5 bakso satu porsi di Malang Rp. 5.000,00  hasil survei menunjukkan bahwa harga satu porsi bakso menurut pembeli harganya cukup terjangkau sehingga konsumen tertarik untuk membeli

-          Pada tabel 6 pendapatan konsumen juga berpengaruh dalam penjualan bakso dengan jumlah pendapatan Rp 1 juta-Rp 2 juta cukup terjangkau

-          Pada tabel 7 pengambilan keputusan konsumen dalam membeli bakso adalah harga, kelas sosial, kemudahan mencapai lokasi, parkir, tampilan penyajian, kepuasan, pendapatan dan demografi

Minggu, 19 Oktober 2014

INSIDEN KECIL YANG MEMPERTEMUKANKU DENGAN TEMAN

INSIDEN KECIL YANG MEMPERTEMUKANKU DENGAN TEMAN
Manusia adalah makhluk sosial yang hidup saling berdampingan, sangat tidak mungkin manusia berdiri sendiri.
Berawal dari sebuah insiden memalukan, aku mengintip tetangga berenang di kolam balon yang bisa dipompa, sore itu aku sedang golar-goler di rumah sembari menonton film kartun kemudian terdengar suara ricuh dari rumah tetangga sebelah dan akupun penasaran ingin melihat ada apa di luar sana. Aku melangkah menuju pintu depan mendekati dimana suara ricuh itu berasal, ternyata suara ricuh itu tepat disebelah rumahku dengan rasa penasaran kuberanikan diri mengintip lewat semak-semak tanaman dan ternyata waaah “gubraak” aku terjatuh!! Seketika semua mata tertuju padaku….. sakitnya sih ga seberapa tapi malunya itu loh hahaha.
Lalu aku ditolong oleh tetangga yang belum kukenal, diolesinya minyak pada jidatku yang benjol akibat terjatuh tadi, akhirnya aku berkenalan dengan seorang wanita bernama dhika, dan dua orang adiknya yang bernama dinda dan lingga setelah berkenalan akupun langsung pulang ke rumah.
Esok paginya Dhika dan dua orang adiknya mendatangi rumahku mengajak bermain sepeda , waktu itu umurku masih 7 tahun dan Dhika ini berumur 13 tahun, aku memanggilnya dengan “teh dhika’ sedangkan adiknya kupanggil nama saja, Dinda dan Lingga, kami keliling komplek untuk menikmati udara pagi, setelah bersepeda kami mampir ke tempat bubur ayam, disana kami bertemu 2 orang anak yang mukanya tidak asing karena sepertinya mereka juga tinggal satu komplek dengan kami berempat lalu aku bertanya kepada salah satu anak tersebut “eh kamu juga tinggal di jalan rafflesia kan ?” dan mereka menjawab “iya kami tinggal disana”, akupun berkenalan dengan mereka berdua yang bernama Daehan dan Brama, mereka berdua yang memperkenalkanku dan tetangga sebelah dengan teman satu komplek yang jumlahnya lumayan banyak yang bernama yuda, dery, nur, adang, ihsan, tyo, firly, audri, jaka dan iqbal.
Sampai sekarang kami sering berbagi cerita suka dan duka, saling membantu bila salah satu dari kami sedang kesusahan, dulu kami juga pernah saling bermusuhan gara-gara hal sepele, kami juga tahu bagaimana karakter tiap masing-masing karena sudah cukup lama kami berteman tapi memang seperti itulah sebuah soulmate itu tercipta lewat sebuah konflik, enta itu konflik yang mengarah ke positif atau negatif.





PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN BAKSO DI MALANG


PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN BAKSO DI MALANG


THE CONSUMERS` BEHAVIOR IN PURCHASING MEATBALLS IN MALANG


Budi Hartono*, Umi Wisapti Ningsih, dan Nila Fithria Septiarini
Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Malang, Jawa Timur


INTISARI


Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik dan faktor yang mempengaruhi pembelian bakso sapi di Malang. Penelitian dilakukan di Malang, Jawa Timur pada bulan Maret 2011. Jumlah responden sebanyak
120 konsumen yang dipilih secara Accidental Sampling. Data dianalisis dengan cara deskriptif dan analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden melakukan pembelian bakso adalah perempuan, berstatus pelajar, mempunyai umur di bawah 35 tahun, pendapatan individu yang diperoleh antara Rp. 1.000.000,00 sampai Rp.
2.000.000,00 per bulan dan harga bakso dikategorikan terjangkau oleh konsumen. Pola mengkonsumsi bakso bukan sebagai makanan pokok tetapi sebagai kuliner, hobi, dan makanan camilan. Delapan faktor yang dipertimbangkan responden secara berurutan adalah harga, kelas sosial, kemudahan mencapai lokasi, parkir, tampilan penyajian, kepuasan, pendapatan, dan demografi.


(Kata kunci: Perilaku konsumen, Faktor yang dipertimbangkan, Bakso)


ABSTRACT


The objective of this research were to analyzed the characteristics and the factors influencing the purchasing of meatballs in Malang. The research was conducted in Malang, East Java in March 2011. One hundred and twenty consumers were chosen as respondents by Accidental Sampling method. Data were analyzed by descriptive and factor analyses. The results showed that most customers were women, student status, with the age below 35 years old, and incomes level of IDR 1.000.000,00 into IDR 2.000.000,00 per month. The meatball`s price was affordable by the consumers. The meatball`s purchasing patterns showed that the meatball was consumed not as a main meal but only for culinary, hobby and also as snacks. The eight factors considered by consumers of meatball purchasing consecutively were price, social class, accessibility, parking, display presentation, satisfaction, income and demographics, respectively.


(Key words: Consumer`s behavior, Considerance factor, Meatball)



Pendahuluan

Kota Malang juga dikenal sebagai kota Bakso selain   kota   Apel.   Bakso   merupakan   makanan daging sapi yang dicampur dengan terigu yang dimasak dengan proses tertentu untuk dikonsumsi. Bakso sangat populer dan digemari semua kalangan dengan harga yang bervariasi dan terjangkau oleh konsumen. Tarwotjo et al. (1971) menjelaskan bahwa bakso daging sapi merupakan sumber protein hewani  karena  daging  sapi  mengandung  protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Usaha bakso membutuhkan tenaga kerja mulai dari lokasi penggilingan, sampai daerah produsen dan pe- masaran. Bakso dibuat menggunakan daging segar agar dihasilkan bakso yang kenyal dan kompak. Bahan  baku  bakso  umumnya  berasal  dari  daging

* Korespondensi (corresponding author): Telp. +62 815 689 5246


paha belakang sapi, akan tetapi dapat juga dibuat dari bagian karkas lainnya.
Usaha   bakso   dapat   digolongkan   sebagai usaha  kecil.  Parubak  et  al.  (2004)  menjelaskan
bahwa usaha kecil mempunyai peranan penting dan strategis dalam mewujudkan  pembangunan  nasio-
nal.  Usaha  kecil  merupakan  usaha  yang  ditekuni oleh sebagian besar masyarakat dan merupakan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan
memberikan pelayanan yang luas kepada masya- rakat.  Pemerintah  terus  berupaya  membina  ke-
lompok   usaha   kecil   agar   menjadi   usaha   yang semakin efisien dan mampu berkembang   mandiri
dan dapat membuka lapangan kerja baru.
Dua faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan   konsumen    dalam   melakukan   pem-
belian  yaitu  faktor  internal  dan  faktor  eksternal
(Asseal, 1992). Faktor eksternal  terdiri  dari  faktor




lingkungan dan strategi bauran pemasaran. Faktor lingkungan terdiri dari faktor budaya, referensi dan kelas sosial. Strategi bauran pemasaran terdiri dari produk, harga, promosi, dan distribusi. Faktor internal terdiri dari faktor gagasan dan karakteristik konsumen. Faktor internal dan eksternal dalam interaksinya dapat mempengaruhi perilaku kon- sumen baik secara individual maupun secara bersama-sama.
Konsumen melakukan pembelian tidak terlepas dari karakteristik produk baik mengenai penampilan, gaya, mutu dan harga dari produk tersebut. Penetapan harga oleh penjual akan ber- pengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen, sebab harga yang dapat dijangkau oleh konsumen akan cenderung membuat konsumen melakukan pembelian terhadap produk tersebut. Karakteristik penjualan bakso akan mempengaruhi keputusan membeli.  Konsumen  akan  menilai  mengenai penjual, baik mengenai pelayanan, mudahnya mem- peroleh produk dan sikap ramah dari penjual (Tedjakusuma et al., 2001).
Penjual bakso harus memahami keinginan konsumen    dengan    cara    mempelajari    perilaku
konsumen agar konsumen bersedia membeli baksonya.  Pemahaman  perilaku  konsumen  yang
baik dan tepat diharapkan akan mengembangkan kegiatan pemasarannya. Penjual bakso daging perlu mengenal konsumen, sasaran dan model  keputusan
yang dilakukan oleh konsumen, sehingga penjual bakso  daging  mengetahui  motif  konsumen  dalam
menilai bakso daging yang sesuai dengan hati nuraninya. Analisis faktor digunakan untuk menentukan  urutan  faktor  yang  dipertimbangkan
oleh  konsumen  dalam  membeli  bakso  daging  di
Kota Malang, sehingga perlu dilakukan penelitian agar     penjual    bakso    dapat    mempertahankan
eksistensinya.

Materi dan Metode


menentukan urutan faktor yang dipertimbangkan oleh  konsumen  dalam membeli  bakso. Jenis data yang digunakan analisis faktor adalah data ordinal dan skala pengukuran yang digunakan adalah skala Likert.

Hasil dan Pembahasan

Gambaran umum responden
Hasil survei menunjukkan bahwa usia konsumen yang mendominasi adalah kelompok usia
16–25 tahun sebanyak 62,5% dan usia 26–35 tahun
sebanyak 25,83% (Tabel 1). Kelompok usia ini tergolong usia produktif sehingga memerlukan kandungan nutrisi yang cukup bagi tubuh dan perlunya menjaga kesehatan. Konsumen pada usia muda (remaja) dipengaruhi oleh aktifitas yang ditekuninya, teman-teman, dan penampilan dari generasi tersebut. Usia responden diatas 45 tahun lebih sedikit dikarenakan pada usia ini seseorang lebih berhati-hati dalam memilih dan meng- konsumsi makanan yaitu lebih memilih makanan yang terbuat dari sayur-mayur (Kasali, 1998 cit. Hermanianto dan Andayani, 2002).
Hasil survei menunjukkan (Tabel 2) bahwa responden perempuan (53,33%) lebih banyak dijumpai dibanding laki-laki (46,67%) karena perempuan mempunyai kecenderungan senang berkumpul dan sering secara bersama-sama mem- beli atau jajan bakso dengan tidak direncanakan. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Hermanianto dan Andayani (2002) yang menjelaskan bahwa pembeli bakso lebih didominasi kaum perempuan karena perempuan mempunyai kecenderungan lebih senang berbelanja, mudah terpengaruh oleh emosi dan menyukai jajan atau ngemil. Alasan ini yang melatarbelakangi wanita sebagai konsumen terbesar bakso sapi.

Tabel 1. Karakteristik responden berdasarkan usia
(characteristics of respondents by the age)


Penelitian dilakukan dengan metode survei di                                          


Kota Malang dengan pertimbangan bahwa Kota Malang dikenal sebagai Kota Bakso. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Maret 2011 di lima lokasi terbesar yang diambil secara purposive sampling yaitu Bakso Solo Kidul Pasar, Bakso Kota Cak Man, Bakso Bakar Pahlawan Trip, Bakso Presiden dan Bakso Duro Kepanjen. Jumlah sampel sebanyak 120 responden yang diambil secara Accidental Sampling. Pengumpulan data primer dengan melakukan tanya jawab dengan responden berdasarkan  kuesioner yang telah dipersiapkan.
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendiskripsikan  karakteristik  responden  yang diteliti serta distribusi item dari tiap variabel dalam angka persentase. Analisis  faktor digunakan untuk


  Usia (tahun) (age (years))   Persentase (percentage)
16 – 25                                  62,50
26 – 35                                  25,83
36 – 45                                    9,17
46 – 55                                    1,67
                 56 –  65                                     0,83   
Jumlah (total)                           100,00

Tabel 2. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin (characteristics of respondents by sex)

    Jenis kelamin (sex)         Persentase (percentage)  Laki-laki (male)                                    46,67
  Perempuan (female)                             53,33       
Jumlah (total)                              100,00




Kelompok sasaran berdasarkan pendidikan yang ditempuh konsumen menunjukkan bahwa sebanyak 44,17% responden memiliki pendidikan akhir SMU dan 39,17% responden memiliki pen- didikan akhir sarjana (Tabel 3), sehingga sebagian besar konsumen adalah berpendidikan tinggi dan terpelajar.  Pendidikan  sebagai  faktor  psikologis yang berpengaruh terhadap jenis dan mutu bahan makanan yang akan dikonsumsi. Hal ini memper- lihatkan bahwa tingkat pemahaman dan pe- ngetahuan seseorang tentang pentingnya kandungan gizi  dipengaruhi  oleh  tingkat  pendidikan  (Kasali,
1998 cit. Hermanianto dan Andayani, 2002).
Data berdasarkan alasan konsumen membeli bakso  menunjukkan  bahwa  mayoritas  konsumen
mengkonsumsi bakso karena bukan sebagai maka-
nan utama (3,33%) tetapi sebagai kuliner, hobi, makanan  camilan  (Tabel  4).  Konsumen  membeli
bakso kuah umumnya dicampur dengan makanan
lain seperti gorengan, tahu atau sedikit mie basah. Responden membeli bakso biasanya di tempat ter- kenal dan memiliki rasa yang sesuai dengan selera konsumen.
Produk bakso tetap digemari oleh konsumen. Karakteristik   utama   responden   dalam   membeli
bakso adalah daya beli konsumen yang dapat diper-
hatikan dari penghasilan yang diperoleh konsumen setiap bulan. Kebanyakan konsumen membeli bakso selain memperhatikan harga juga memperhatikan cara penyajian yang cepat dan praktis. Rerata harga


bakso  satu  porsi  di  Malang  Rp.  5.000,00.  Hasil survei menunjukkan bahwa harga satu porsi bakso tersebut adalah sedang (Tabel 5) atau cukup yang berarti tidak terlalu mahal ataupun tidak terlalu murah, sedangkan bakso tersebut dianggap kon- sumen bukan sebagai makanan utama.

Analisis faktor
Hasil   analisis   faktor   perilaku   konsumen
dalam pembelian bakso di Malang menghasilkan 8 faktor yang terbentuk (Tabel 7). Tabel 7 memper- lihatkan bahwa faktor-faktor yang terbentuk merupakan faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam pembelian bakso di Malang sebesar 63,76% dan  sisanya  sebesar  37,14%  merupakan  faktor- faktor yang tidak terlalu dipertimbangkan oleh konsumen. Untuk lebih jelasnya akan dibahas interpretasi tiap faktor dari kedelapan faktor yang terbentuk (Tabel 7).
Faktor persepsi konsumen merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli produk bakso daging sapi memiliki persentase varian sebesar 16,69% dan merupakan urutan pertama yang dipertimbangkan oleh kon- sumen karena mempunyai nilai Eigen Value ter- besar  yaitu  3,672. Variabel  yang  memiliki  factor loading terbesar pada persepsi konsumen adalah variabel harga yaitu sebesar 0,717 yang artinya variabel   harga   memiliki   korelasi   sangat   kuat terhadap   faktor   persepsi   konsumen.   Responden




Tabel 3. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan (characteristics of respondents by education)


Tabel 5. Karakteristik responden berdasarkan harga
(characteristics of respondents by price)

Harga (price)                       Persentase


Pendidikan (education)                 Persentase                                                                       (percentage)            


                                                                  (percentage)          
SD/Sederajat (elementary school)              0,83
SMP/Sederajat (junior high school)           5,83
SMU/Sederajat (senior high school)        44,17
Akademi/Sederajat (academy)                  10,00
  Sarjana (under/graduate school)              39,17        Jumlah (total)                       100,00

Tabel 4. Karakteristik responden berdasarkan alasan


Sangat mahal (very expensive)                 3,33
Mahal (expensive)                                  13,33
Sedang (medium)                                   57,50
Murah (cheap)                                        19,17
  Sangat murah (very cheap)                      6,67       Jumlah (total)                        100,00

Tabel 6. Karakteristik responden berdasarkan pendapatan (characteristics of respondents by income)


mengkonsumsi bakso (characteristics of respondents                                                           
by reasons consuming meatballs)




Alasan mengkonsumsi bakso




Persentase


Pendapatan (Rp) (income (Rp))         Persentase
                                                              (percentage)    
< 500.000                                                  21,67


     (reason consuming meatballs)         (percentage)
Makanan utama (the main food)                 3,33
Makanan camilan (snack foods)               31,67
Hobi (hobby)                                             31,67
  Kuliner (culinary)                                     33,33     Jumlah (total)                          100,00


500.000 – 1.000.000                                  13,33
1.000.001 – 1.500.000                               28,33
1.500.001 – 2.000.000                               24,17
  > 2.000.000                                               12,50          Jumlah (total)                          100,00



Tabel 7. Analisis faktor perilaku konsumen dalam pembelian bakso (factor analysis of consumer behavior in purchasing meatballs)

Faktor (factor)
Variabel (variable)
Eigen value
Loading factor
%
Persepsi konsumen
-Kepercayaan (confidence)

0,429

(consumer perception)
-Produk terkenal (famous products)

0,551


-Ukuran produk (size of product)
3,672
0,675
16,69

-Harga (price)

0,717

Lingkungan
-Kebudayaan (culture)

0,680

(environment)
-Kelas sosial (social class)
-Kelompok sosial (social groups)
2,048
0,741
0,729
9,31
Referensi (reference)
-Pengetahuan (knowledge)

0,577


-Faktor promosi (promoting factor)
-Kemudahan mencapai lokasi (ease of reaching
1,915
0,623
0,814
8,71

Kepedulian produsen
the location)
-Kenyamanan (convenience)


0,486

(concern manufacturer)
-Tempat parkir (the parking lot)

0,780


-Kebersihan tempat (hygiene place)
1,529
0,758
6,95

-Pelayanan produsen (producer service)

0,482

Karakteristik produk
-Tampilan penyajian (view presentation)

0,924

(characteristics of
-Rasa dan tekstur (the taste and texture)
1,526
0,609
6,94
product)




Pengalaman (experience)
-Kepuasan sebelumnya (previous satisfaction)

0,798


-Hobi (hobbies)
1,246
0,588
5,66
Kepuasan konsumen
(consumer satisfaction)
-Pendapatan (revenue)
-Kepribadian (personality)

1,054
0,748
0,716

4,79
Karakteristik konsumen
-Demografi (demographics)
1,036
0,767
4,71
(characteristics of




consumers)





Jumlah (total)


63,76


mempertimbangkan harga bakso karena menurut penilaian responden tingkat harga akan mem- pengaruhi  jumlah  pembelian  suatu  produk  yang akan dikonsumsi. Hal tersebut diperkuat dengan penilaian  harga  tidak  terlalu  mahal  untuk  setiap porsi bakso adalah Rp. 5.000,00 yang termasuk kategori sedang (57,5%) (Tabel 5), sehingga apabila harga bakso terlalu tinggi maka responden akan mempertimbangkan ulang sebelum membeli produk tersebut.
Faktor lingkungan memiliki persentase varian sebesar 9,310% dan memiliki urutan kedua faktor yang dipertimbangkan oleh konsumen dengan nilai Eigen Value terbesar yaitu 2,048. Variabel yang memiliki factor loading terbesar pada faktor lingkungan  adalah  variabel  kelas  sosial  sebesar
0,741 yang artinya bahwa variabel kelas sosial memiliki korelasi kuat terhadap faktor lingkungan,
sedangkan  variabel  yang  memiliki  factor  loading
terkecil adalah variabel kebudayaan sebesar 0,680 yang artinya bahwa variabel kebudayaan memiliki
korelasi  paling  lemah  jika  dibandingkan  dengan
kedua variabel lain yang mendukung pada faktor lingkungan.


Kebudayaan tidak terlalu dipertimbangkan oleh responden, dikarenakan responden membeli produk bakso bukan karena adat atau kebiasaan masyarakat  tertentu  untuk  mengkonsumsi  produk ini. Produk ini bukan menjadi makanan utama bagi responden. Hal ini diperkuat dengan penilaian responden bahwa produk bakso bukan menjadi makanan utama hanya 3,33% (Tabel 5). Produk ini dikonsumsi hanya sebagai kuliner, hobi, dan makanan camilan.
Kelas sosial responden mempertimbangkan untuk membeli produk bakso tersebut. Tingkat penghasilan responden sangat berpengaruh terhadap pembelian produk bakso. Penghasilan yang lebih akan mempengaruhi kemudahan responden untuk membeli produk tersebut. Hal ini diperkuat dengan data    responden    yang    memiliki    penghasilan Rp.  1.000.000,00  –  Rp.  2.000.000,00    sebanyak
52,50%  (Tabel  6)  akan  membeli  produk  tersebut lebih  mudah  karena  menganggap  produk tersebut
memiliki harga yang relatif terjangkau.
Faktor referensi memiliki persentase varians sebesar  8,707%  merupakan  faktor  urutan  ketiga
yang dipertimbangkan  oleh konsumen dengan nilai




Eigen Value terbesar yaitu 1,915. Variabel yang memiliki factor loading terbesar adalah variabel kemudahan mencapai lokasi sebesar 0,814 yang artinya bahwa variabel kemudahan mencapai lokasi memiliki korelasi kuat terhadap faktor referensi.
Faktor  yang   menyebabkan  perilaku  pem- belian   seseorang   bisa   juga   dipengaruhi   oleh
referensi kelompok. Referensi kelompok adalah kelompok  sosial  yang  menjadi  ukuran  seseorang
(bukan anggota kelompok tersebut) untuk mem- bentuk kepribadian dan perilakunya (Sudarmiatin,
2009).  Tingkat  pengetahuan  yang  kurang  pada
responden terhadap lokasi-lokasi pemasaran produk bakso menjadi pertimbangan konsumen untuk menerima pendapat atau masukan-masukan yang diberikan oleh orang-orang disekitar responden. Faktor promosi disini sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk tersebut oleh res- ponden. Faktor promosi salah satunya yaitu tentang kemudahan mencapai lokasi produk tersebut di- pasarkan. Kemudahan mencapai lokasi tersebut sangat dipertimbangkan responden untuk membeli produk tersebut, karena apabila lokasi tersebut sulit dijangkau  maka  responden  akan  memilih  lokasi yang lainnya.
Faktor  kepedulian  produsen  memiliki  per- sentase varians sebesar 6,951% dan memiliki urutan
keempat  faktor  yang  dipertimbangkan  oleh  kon-
sumen  dengan  nilai  Eigen  Value  terbesar  yaitu
1,529. Variabel yang memiliki factor loading ter- besar adalah variabel tempat parkir sebesar 0,780 yang artinya bahwa variabel tempat parkir memiliki korelasi kuat terhadap faktor kepedulian produsen.
Tempat parkir pada lokasi penjualan produk sangat  dipertimbangkan  oleh  responden,  karena
konsumen akan lebih merasa nyaman jika pada saat
menikmati bakso, kendaraan yang  diparkir terletak pada tempat yang aman dan diawasi oleh petugas parkir. Sulistyawati (2004), menyatakan bahwa ter- sedianya sarana parkir yang memadai dan aman merupakan faktor yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian suatu produk, karena hal ini dapat memberikan keamanan dan kenyamanan terutama dari gangguan pengamen, pedagang asongan dan pengemis.
Kebersihan   tempat   juga   dipertimbangkan oleh responden, karena lokasi yang bersih, sarana
dan  prasarana  yang  bersih,  serta  sirkulasi  udara
yang lancar akan menambah nafsu makan res- ponden. Kebersihan tempat merupakan salah satu yang harus diperhatikan oleh pemilik usaha produk tersebut dikarenakan apabila tempat penyajian produk tidak bersih akan menyebabkan penyebaran penyakit yang ditularkan oleh konsumen kepada konsumen yang lainnya.
Faktor karakteristik produk memiliki persen- tase varian sebesar 6,938%. Variabel tampilan pe-


nyajian  memiliki  factor  loading  terbesar 0,924 bahwa  variabel  tampilan  penyajian  memiliki korelasi kuat terhadap faktor karakteristik produk.
Tampilan penyajian suatu produk sangat dipertimbangkan  oleh  responden  dalam  membeli
bakso  daging  sapi.  Penyajian  produk  yang  di-
berikan pada responden kurang menarik akan mengurangi  selera  makan  responden  begitu  juga
sebaliknya jika penyajian produk terlihat menarik
maka responden akan bertambah selera makan. Tampilan penyajian suatu produk sangat berkaitan dengan rasa dan tekstur produk yang disajikan.
Faktor  pengalaman  memiliki  persentase varian  sebesar  5,663%.  Variabel  yang  memiliki
factor loading terbesar adalah variabel kepuasan sebelumnya sebesar 0,798 yang artinya bahwa variabel  kepuasan  sebelumnya  memiliki  korelasi
kuat terhadap faktor pengalaman.
Kepuasan pembelian produk sebelumnya merupakan   salah   satu   hal   yang   sangat   diper-
timbangkan oleh responden dalam pembelian pro-
duk tersebut. Hal ini dikarenakan pengalaman pem- belian produk sebelumnya akan menjadi kesan tersendiri bagi para responden. Apabila responden merasa puas pada saat membeli produk sebelumnya maka responden akan membeli produk tersebut kembali. Selain itu hobi merupakan suatu hal yang berpengaruh terhadap responden dalam pembelian produk tersebut karena produk bakso daging sapi merupakan makanan yang banyak digemari oleh berbagai kalangan masyarakat sehingga banyak responden yang membeli produk tersebut karena kesenangan atau hobi mengkonsumsi produk tersebut.
Faktor kepuasan konsumen memiliki persen- tase varian sebesar 4,790%. Variabel yang memiliki factor loading  terbesar adalah variabel pendapatan sebesar 0,748 yang artinya bahwa variabel ini me- miliki korelasi kuat terhadap faktor kepuasan konsumen.
Pendapatan berkaitan dalam mempertimbang- kan pembelian produk bakso. Responden yang me-
miliki  pendapatan  lebih  banyak  cenderung  me-
miliki kepribadian yang boros atau lebih mudah menghambur-hamburkan uang untuk mendapatkan
kepuasan, sehingga responden lebih banyak mem-
beli produk tersebut untuk memenuhi kepuasan mengkonsumsi produk tersebut. Sebaliknya jika responden  berpenghasilan lebih  sedikit  cenderung memiliki  kepribadian  yang  lebih  terkendali sehingga para responden tidak hanya memikirkan kepuasan semata. Sulistyawati (2004) menyatakan bahwa  tingkat  pendapatan  juga  mempunyai pengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen. Pendapatan yang dimaksud disini adalah pen- dapatan   individu  konsumen.  Pendapatan  menjadi hal  yang  sangat  penting  karena  keputusan  pem-




belian erat kaitannya dengan tingkat pendapatan seseorang dan pengeluaran seseorang. Semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang cenderung semakin tinggi pula pengeluaran yang dilakukan.
Faktor karakteristik konsumen memiliki per- sentase  varian  sebesar  4,708%  dan  merupakan urutan kedelapan yang dipertimbangkan oleh kon- sumen karena mempunyai nilai Eigen Value ter- besar yaitu 1,036. Variabel demografi sudah pasti memiliki factor loading terbesar karena variabel demografi merupakan variabel satu-satunya yang diwakili faktor karakteristik konsumen yaitu sebesar
0,767 yang artinya bahwa variabel demografi me- miliki korelasi yang sangat kuat terhadap faktor karakteristik konsumen.
Demografi konsumen didekati dengan variabel-variabel seperti usia, jenis kelamin,   pen-
didikan, dan pendapatan. Responden wanita cenderung  lebih  senang  berbelanja,  mudah  ter-
pengaruh oleh emosi, dan menyukai jajan atau makanan camilan.

Kesimpulan

Sebagian besar responden yang melakukan pembelian bakso adalah perempuan, berstatus pelajar, mempunyai umur di bawah 35 tahun, pendapatan    individu    yang    diperoleh    antara Rp.  1.000.000,00  sampai  Rp.  2.000.000,00  per bulan dan harga bakso Rp. 5.000,00 seporsi dapat dikategorikan terjangkau. Pola mengkonsumi bakso bukan   sebagai   makanan   pokok   tetapi   sebagai kuliner, hobi, dan makanan camilan. Delapan faktor yang dipertimbangkan responden secara berurutan adalah harga, kelas sosial, kemudahan mencapai lokasi, parkir, tampilan penyajian, kepuasan, pen- dapatan, dan demografi.


Daftar Pustaka

Asseal,  H.  1992.  Consumer  Behavior  and Marketing Action. New York: PWS-KENT. Publishing Company, Boston.
Hermanianto, J. dan R.Y. Andayani. 2002. Studi perilaku konsumen dan identifikasi parameter
bakso sapi berdasarkan preferensi konsumen di wilayah DKI Jakarta. Jurnal Teknologi dan
Indutri Pangan 13(1): 1-10.
Parubak,  B.,  A.  Thoyib,  dan  A.  Suman.  2004.
Faktor faktor yang dipertimbangkan kon- sumen  dalam  pembelian  kain  donggala  di
Kotamadya Palu. Kumpulan Artikel Seminar
Hasil Penelitian. Bidang Kajian Perilaku Konsumen. Program Magister Manajemen. Pascasarjana, Universitas Brawijaya. Malang. Hal. 1-12.
Sudarmiatin.   2009.   Model   perilaku   konsumen dalam perspektif teori dan empiris pada jasa
pariwisata. Jurnal Ekonomi Bisnis 14(1): 1-
11.
Sulistyawati, E. 2004. Analisis faktor faktor yang mempengaruhi   perilaku   konsumen   dalam
keputusan  pembelian  produk  patung  kayu pada toko kerajinan di Kecamatan Sukawati,
Gianyar,  Bali.  Kumpulan  artikel  Seminar Hasil Penelitian. Bidang kajian Perilaku Konsumen.  Program  Magister  Manajemen
Universitas Brawijaya Malang. Hal. 67-84. Tedjakusuma, R., S. Hartini, dan Muryani. 2001.
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian air minum   mineral   di   Kotamadya   Surabaya.
Jurnal Penelitian Dinamika Sosial 2(3): 48-
58.

Tarwotjo,   I.,   S.   Hartini,   S.   Soekirman,   dan Soekarno.   1971.   Komposisi   Tiga   Jenis Bakso. Akademi Gizi, Jakarta.

Sumber:
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:Qy07fb3PI-wJ:journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/download/600/426+&cd=2&hl=id&ct=clnk